Papua No. 1 News Portal | Jubi,
Asmat, Jubi – Warga Kampung Syuru, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, mengeluhkan akses jalan menuju kota. Lamanya perjalanan membuat mereka sering kehilangan pemasukan karena harus membuang ikan yang busuk dalam perjalanan.
Paskalis Ceski, satu diantara warga mengatakan satu-satunya transportasi menuju Kota Agats hanya dengan mendayung perahu secara manual. Mereka harus melewati rawa untuk menjual ikan hasil tangkapan.
“Lamanya bisa tiga sampai empat jam,” ujarnya kepada Jubi di Kampung Syuru, Minggu (4/3/2018).
Jika sudah begitu lanjutnya, ikan-ikan yang busuk selama perjalanan terpaksa mereka buang ke laut. Kalau pun ada ikan yang bertahan selama perjalanan, jumlahnya sedikit. Dan harganya juga tidak seberapa.
“Ikan-ikan itu terpaksa dijual dengan harga antara Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per lima ekor,” kata Paskalis.
Hal senada disampaikan Dominikus Awum. Warga Kampung Syuru ini menuturkan, mayoritas warga Kampung Syuru, Distrik, Agats, Kabupaten Asmat berprofesi sebagai nelayan, yang setiap harinya mereka harus berjibaku ke laut untuk mencari ikan. Hanya saja, seluruh fasilitas yang mereka gunakan masih manual.
“Hasil tangkapan ikan, dibawa dan dijual ke pasar. Kadang ikannya masih segar, tetapi ada yang rusak dan terpaksa dibuang ke tengah laut,” ujarnya. (*)
