Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,
Jayapura, Jubi – Penjual sagu enceran di pasar tradisonal Hamadi, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Lina Waroy mengatakan, menjelang Desember biasanya harga sagu mulai naik. Menurutnya, kebutuhan akan sagu pada bulan tersebut sangat banyak.
Meski mahal, ketersediaan sagu masih mencukupi. Bila stok lagi kosong, Lina dan kawan-kawannya akan mencari ke daerah Sentani. Warga Serui ini mengaku harga jual saat ini di Pasar Hamadi per karunganya Rp250 ribu hingga Rp300 ribu. Padahal biasanya hanya Rp200 ribu.
"Saya ambil sagunya dari orang kampung di Genyem, pembelinya dari orang Papua, orang Makassar, orang Bugis, pokoknya dong datang belanja untuk makan papeda," ujarnya kepada Jubi, Kamis (10/11/2016).
Ia menjual sagu sesuai ukuran, mulai Rp10 ribu hingga Rp40 ribu yang dibungkus dalam kantong kresek. Bersih penghasilannya jika sedang ramai Rp1 juta dan bisa Rp500 ribu jika sepi.
Haji Baso Sese, pengepul dan pengencer sagu di Pasar Hamad mengaku, harga sagu per karung dibelinya Rp200 ribu. Tapi mendekat Natal 25 Desember biasanya bisa Rp300 ribu hingga Rp350 ribu.
"Saat ini masih Rp200 ribu hingga Rp250 ribu dan saya menjual eceran Rp10 ribu dan Rp20 ribu,” kata Haji Baso yang sudah menjual sagu selama 50 tahun.
Ia biasa membeli sagu langsung dari Genyem dan Sentani yang didatangkan ke Pasar Hamadi. Sagu yang bagus, katanya, tergantung dari rawanya. Yang bagus sagu putih, karena dipelihara, sedangkan sagu warna merah adalah sagu duri atau yang tidak dipelihara.
"Kalau lagi sepi laku sehari bisa sampai dua karung, kalau lagi ramai bisa tujuh karung," katanya. (*)
