Lelah dan ketegangan selama perjalanan seketika terbalas setibanya rombongan di Kampung Krimbri di Pulau Kurudu. Suguhan matoa menjadi penawarnya.
PERJALANAN menuju Kampung Krimbri cukup memacu adrenalin. Arus deras dan ombak besar harus diarungi sebelum sampai di tujuan. Perjalanan menantang arus dan ombak itu dirasakan saat berada di celah perairan Tanjung Andey dengan Pulau Kurudu.
Kampung Krimbri berada di Distrik Pulau Kurudu, Kabupaten Kepulauan Yapen. Wilayah daratan ini berada di antara timur Yapen, dan pesisir utara Waropen.
Perjalanan ke Krimbri dapat ditempuh dengan kapal laut perintis dan perahu cepat (speed boat) dari Serui, Ibu kota Kepulauan Yapen. Waktu tempuhnya sekira 1,5 jam.
Karena harus mengarungi arus deras dan ombak besar, dibutuhkan seorang pengemudi speed boat dengan keterampilan mumpuni dan berpengalaman untuk ke Krimbri. Kemampuan itu biasa hanya dimiliki oleh warga setempat. Dengan bekal pengalaman dan pengetahuan medan yang dapat diandalkan, pengemudi pun bisa membawa speed boat merapat hingga ke pantai.
Pengalaman menantang tersebut dirasakan oleh serombongan pengunjung dari Serui pada musim liburan awal bulan ini. Mereka dijemput oleh warga setempat dengan menggunakan speed boat kecil menuju pantai. Dilansir dari kepyapenkab.go.id, kedatangan rombongan langsung disambut dengan jamuan dari Kepala Distrik Pulau Kurudu Sophia Rapami.
Habitat matoa
Lelah dan ketegangan selama perjalanan seketika terbalas setibanya rombongan di Kampung Krimbri. Suguhan matoa menjadi penawarnya.
Pohonan matoa (Pometia pinnata) tumbuh subur sehingga menyerupai hutan di sepanjang daratan Pulau Kurudu. Saat ini, matoa sedang memasuki musim berbuah. Itu sebabnya rombongan dari Serui tersebut bersuka hati menerima undangan dari warga setempat untuk berkunjung ke Kampung Krimbri.
Matoa merupakan buah endemik Papua. Walaupun saat ini banyak daerah mulai mengembangkannya sebagai tanaman budi daya, matoa tetap diidentikan sebagai buah eksotik khas Papua.
Mengutip publikasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat, Matoa tergolong pohon besar. Tingginya rata-rata 18 meter, dengan diameter batang maksimum 100 sentimeter.
Matoa pada umumnya hanya berbuah setahun sekali. Musim berbunganya berlangsung pada Juli-Oktober, dan berbuah sekitar tiga atau empat bulan kemudian.
Ada dua jenis matoa yang dikenal di Papua. Jenis tersebut ialah matoa kelapa, dan matoa papeda.
Perbedaan kedua jenis matoa tersebut terletak pada ukuran dan tekstur daging buahnya. Matoa kelapa berdaging buah kenyal dan ngelotok, seperti rambutan Aceh. Diameter buahnya sekitar 2,2-2,9 sentimeter. Adapun matoa papeda berdaging buah lembek dan lengket. Diamater buahnya lebih kecil, yakni sekitar 1,4-2 sentimeter.
Matoa kelapa maupun matoa papeda dapat dibedakan lagi menjadi tiga jenis berdasarkan warna daun. Jenis itu ialah matoa merah, matoa kuning, dan matoa hijau.
Kendala pemasaran
Pengunjung dapat menyantap sepuasnya matoa kelapa maupun matoa papeda di Kampung Krimbri ketika musim matoa berbuah, seperti saat sekarang ini. Mereka bisa menikmati cita rasa dan kesegaran alami buah yang baru dipetik dari pohonnya.
Pengunjung bisa pula ikut memanen. Lalu, menikmati buahnya di bawah kerindangan pohon atau di sekitar kebun matoa.
Matoa begitu melimpah saat musim berbuah di Kampung Krimbri. Warga bahkan sampai kesulitan menjual hasil panen mereka karena terbatasnya sarana dan akses pemasaran.
“Buah matoa sangat melimpah di Pulau Kurudu. Kesulitan kami ialah mendistribusikannya (menjualnya) ke luar (pulau). Itu (pemasarannya) hanya dapat dilakukan dengan menggunakan transportasi laut,” kata Alfred Rumbewas, warga Krimbri kepada Tim Humas Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen, seperti dikutip kepyapenkab.goid.
Kepala Distrik Pulau Kurudu Sophia Rapami mengamini pernyataan Rumbewas. Karena itu, dia mengajak penikmat matoa untuk memanen dan menikmati buah tersebut langsung di habitatnya di Pulau Kurudu. (*)
Editor: Aries Munandar
