Mati ketawa ala Papua, dari Gus Dur sampai Bung Karno

Papua
Bung Karno berpose bersama Trio Greco, kelompok musik dari Yunani. /gahetna.nl.
Papua No.1 News Portal | Jubi

“Bapak Presiden, kami laporkan di Papua ada pengibaran bendera Bintang Kejora,” lapor Wiranto kepada Gus Dur. “Apa masih ada bendera Merah Putihnya?” tanya Gus Dur.

“Ada hanya satu, tinggi,” jawab Wiranto. Waktu itu menteri koordinator politik dan keamanan (Menkopolkam).”Ya sudah, anggap saja Bintang Kejora itu umbul-umbul.”

Read More

Tak puas, Wiranto sekali lagi mengingatkan.Pengibaran bendera Bintang Kejora itu menurutnya berbahaya. “Pikiran Bapak yang harus berubah, apa susahnya menganggap Bintang Kejora sebagai umbul-umbul. Sepak bola saja banyak benderanya!” balas Gus Dur.

Petikan di atas bukan Mop. Tapi kesaksian,sebagaimana dituliskan mantan Menteri Riset dan Teknologi, Muhammad A.S. Hikam lewat bukunya “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” (2013).

Memang, Gus Dur punya banyak cara bikin akal sehat kita terusik. Termasuk lewat humor. Orang Papua juga punya seribu cerita menertawakan diri sendiri dan orang lain. Kita mengenalnya sebagai Mop. Saya pernah dengar Mop satir di Jayapura; Konon, kalau orang Papua kumpul lebih dari dua, pasti hanya tiga barang yang mereka bahas. Pertama, Papua merdeka. Kedua sepak bola dan terakhir bikin Mop. Begitulah cara orang Papua tertawa dan menertawakan. Jenaka. Tapi juga memukul logika kita sampai terpingkal.

Tak ada yang tahu pasti, darimana Mop bermula. Dominggus Arnold Mampioper, jurnalis senior    Papua mengaitkan ini dengan budaya yang berkembang di zaman kolonial Belanda; April Mop.

“Akhir Maret jelang memasuki 1 April sudah pasti banyak orang mendapat tipu alias kena mob. Hingga ada yang menyebut MOP adalah singkatan dari Mati ketawa Orang Papua,” tulisnya dalam artikel “Istana Mambesak dan stand up komedi ala Papua” di laman arsip.jubi.id, 6 Agustus 2020.

Dalam artikelnya itu, Dominggus juga menambahkan Mop kian populer seiring lahirnya grup kebanggaan orang Papua, Mambesak pada 5 Agustus 1978.

Baca Juga: Buah tangan serdadu Jepang di Biak dan Sentani

Setiap malam Minggu ada panggung senja di depan Istana Mambesak, di Museum Universitas Cenderawasih (Uncen) Kota Jayapura-Papua. Di sana ada pertunjukan musik dan Mop. Setiap grup boleh tampil. Termasuk para pelajar, untuk mengisi acara musik dan tari serta cerita mob. Salah satu grup yang pernah tampil adalah grup mob dan lawak dari SMA Gabungan (Kota Jayapura). Personilnya terdiri dari Marthen Chaay dan Marthen Mauri (sekarang di Swedia) serta Ian Gebze.

“Panggung ini juga melahirkan banyak seniman muda Papua untuk berkarya dan mengenal jati dirinya sebagai orang Papua. Seniman dan juga seorang Antropolog, mendiang Arnold Aap, juga memberikan kesempatan kepada pemuda untuk tampil bercerita lucu alias mob agar semua bisa tertawa dan terhibur di panggung Istana Mambesak,” tulisnya.

Hugo warami, dalam risetnya “Tipologi wacana mop ‘humor’ dalam

masyarakat Papua: identifikasi dan eksplorasi (Universitas Negeri Papua), menulis, Mop punya status khas dalam komunikasi masyarakat Papua. Status bahasa yang diwariskan sebagai tata bahasa normatif atau kebakuan, diporak-poranda oleh tindak komunikasi wacana mop bahasa Melayu Papua.Selain menghibur, Mop juga berperan sebagai alat ejek. Mengkritik sesuatu atau seseorang. Kritik atau ejekan ini biasanya tidak bersifat langsung.

Bahkan presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, ingat betul cerita Mop yang disampaikan seorang Uskup Irian Barat ketika itu. Dia mengisahkannya kembali di buku biografinya, “Bung Karno, penyambung lidah rakyat Indonesia (Cindy Adams, 1965). Begini ceritanya:

Pada suatu hari Sophia Loren, bintang film kesayanganku, mengetuk pintu Sorga sambil merayu St Petrus,” Aku Sophia Loren. Dapatkah anda mengizinkan aku masuk sorga?”. Sambil mengerutkan alis matanya penuh teka-teki, St Petrus memjawab, “Tunggu sebentar, aku akan periksa dulu daftarnya.” Ia memeriksa dengan teliti gulungan daftar, sambil mulutnya komat-kamit,” Loren… Loren…S-O-P… tidak ada, aku tidak lihat namamu di dalam catatan. Maaf, engkau tidak bisa masuk.”

Dengan sedih dia memohon, “Tolonglah, St. Petrus yang baik hati, Izinkanlah aku masuk.”

Lalu St. Petrus menghibur,” ya, aku orang yang bersifat adil. Aku kasih tahu apa yang harus kau lakukan. Kalau engkau bisa lulus ujian, kami akan membolehkanmu masuk.Nah, di sana ada danau dengan sebuah titian yang sangat kecil terentang di atasnya. Kalau engkau bisa selamat meniti ke seberang, aku jamin engkau diterima,”

“Tetapi apa kesulitannya untuk menyeberang?”

St Petrus berbisik,”Bagaimanapun, orang -orang yang punya dosa tidak akan berhasil. Mereka selalu jatuh ke dalam air,”

Maka keduanya berjalan meniti jembatan itu, yang seperti dikatakan oleh St. Petrus, sangat sempit. Mereka harus meniti pelan-pelan dan beriringan.  St Petrus berjalan di belakang tamunya. Sophia yang punya bentuk tubuh menggairahkan itu mengenakan baju sangat ketat. Waktu dia berjalan ia menggoyang-goyangkan pantatnya. Hingga menimbulkan birahi. St Petrus memperhatikannya dari belakang dan tiba-tiba, di saat Sophia selamat sampai di seberang, terdengar bunyi debur yang keras di belakangnya.

“Jadi, bila St Petrus saja tercebur ke air, apa pula yang akan terjadi pada Sukarno? Boleh jadi Sukarno tenggelam! aku sangat takut, apabila memang ada penjaga pintu sorga dan bila ia berhak untuk mengatakan kemana aku   akan pergi, lalu… ya… boleh jadi aku diceburkan langsung masuk neraka.(*)

Editor: Angela Flassy

Related posts