Maknai Paskah dengan kondisi Tanah Papua saat ini

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Yahukimo, Jubi – Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua, Doktor Benny Giay berpesan kepada seluruh jemaat gereja tersebut untuk menghayati dan memaknai arti kematian Tuhan Yesus.  Melalui momen tri hari suci Paskah yang diawali dengan Jumat Agung itu, Benny Giay melihat kondisi di tanah Papua kini, tidak jauh beda dengan dinamika kematian Yesus di  zaman kerajaan Romawi dahulu.

Benny Giay juga berpesan agar warga gereja harus mengerti, jika perayaan Paskah saat ini berada dalam suasana serta kondisi krisis.

“Kondisi Papua tidak beda konteksnya dengan zaman menyerahkan diriNya (Yesus) yang mati diatas kayu salib untuk kita manusia. Seperti halnya kita di Papua pada usia ke-50 tahun diperhadapkan dengan rezim negera, pemerintah, militeristik dan kekerasan,” ujarnya.

“Demikian juga Kristus dalam karyanya, dia adalah bagian yang lahir dalam bangsa Israel diperhadapkan dengan rezim tentara romawi yang sedang jaya, mengekspoloitasi, menduduki bangsanya, tanah leluhurnya, dan diperhadapkan dengan kebijakan agama, politik yang sifatnya menaklukan dan tidak memberikan ruang kebebasan kepada bangsa Israel. Dalam kondisi begitu, Kristus hadir, sama halnya dengan kita di Papua,” sambung Giay.

Benny Giay juga mengajak umat Kristiani untuk melihat dari sejarah kematian Kristus, yang dibunuh oleh pemimpin-pemipin agama Yahudi, yang berkolaborasi dengan tentara romawi saat itu. Sejarah ini sama dengan yang dialami orang Papua, yang dibunuh, dan ditindas. Padahal ajaran yang disampaikan oleh Kristus adalah kasih, seperti jangan membunuh, jangan menindas dan jangan mencuri, serta sejumlah ajaran lainnya.

“Karena, jika bicara pembaharuan antara manusia dengan Allah, Dia (Yesus Kristus) juga melawan sistem orang Yahudi yang berkolaborasi dengan kekaisaran romawi khusus tentang pajak, dan kebijakan-kebijakan romawi yang membuat orang Israel itu tersingkirkan. Sehingga waktu Yesus hadir dan berkarya melawan pemimpin agama dan kelompok-kelompok farisi dengan wajah agama, disitulah bukti perlawanan dengan kasih,” kata Benny Giay.

Dalam Paskah ini, Giay mengimbau kepada Gereja dan umat Kingmi untuk membaca perubahan-perubahan di sekitar, karena Orang Papua yang meninggal dunia sudah sangat banyak.

Ia mencontohkan seperti di Asmat, kemudian Nduga pada bulan September hingga Oktober 2017 yang menewaskan 94 orang, belum lagi di Deiyai pada Juni hingga Juli yang menewaskan 100 orang,  menjadi peringatan bagi orang Papua, jika Tuhan saat ini sedang berbicara kepada seluruh jemaat di gerejaNya.

Sementara itu, Pendeta Atias Matuan dalam khotbahnya mengatakan hal yang hampir serupa. Kata dia, umat harus bersyukur dengan pengorbanan dan karya keselamatan yang Yesus berikan, serta memaknai Paskah yang sesungguhnya.

“Kita bersyukur bahwa atas karya keselamatanNya bagi umat manusia yang ada di dunia, Ia (Yesus) merelakan diri datang ke dunia untuk menebus dosa kita. Karena Dia mengambil alih bagian manusia yaitu pelayanan, penderitaan, sampai dengan penyalibanNya diatas kayu salib untuk menebus dosa kita,” kata Pendeta Atias Matuan dalam khotbahnya yang dikutip dari ­kitab Markus 15:36-37, dihadapan ratusan jemaat Kingmi di Gereja Imanuel, Jalan Lokpon kilometer tiga, Jumat (30/3/2018) di Dekai Yahukimo.

Ia menambahkan, tanggung jawab yang Kristus berikan untuk jemaat harus dijalani, baik dalam keluarga, bahkan dalam pelayanan yang dipercayakan kepada setiap yang menerima urapanNya.

“Karena melalui pengorbanan Kristus setiap umat Kingmi dan seluruh gereja-gereja Tuhan yang ada di Papua dan khusus di Yahukimo, harus bersatu, memaknai arti Paskah itu lalu memujudkan visi Kristus diatas tanah Papua, khususnya jemaat Imanuel Dekai,” katanya. (*)

Related posts