Mahasiswa Maybrat di Yogyakarta minta hentikan operasi militer di kampungnya

Mahasiswa asal Kabupaten Maybrat, Papua
Mahasiswa asal Kabupaten Maybrat yang sedang belajar Papua di Yogyakarta (dok/Ist)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Semarang, Jubi – Mahasiswa asal Kabupaten Maybrat yang sedang  belajar Papua di Yogyakarta minta agar pemerintah hentikan operasi militer di  kampung halamannya. Mereka menilai operasi militer dilakukan TNI selama ini justru memperkeruh konflik dan menimbulkan korban sipil tak bersalah.

Read More

“Hentikan operasi militer di Kabupaten Maybrat, wilyah Aifat Timur Raya yang sedang berlangsung saat ini,” kata juru bicara Mahasiswi Maybrat di Kota Studi Yogyakarta, Yesef Fatem, dalam pernyataan resmi kepada Jubi, Sabtu, (11/9/2021)

Baca juga : Seorang sekretaris kampung dan seorang mahasiswa ditangkap Maybrat 

Mahasiswa desak DPRD Maybrat bentuk Pansus Kemanusiaan 

KNPB Maybrat bantah tudingan polisi terkait pembunuhan 4 anggota TNI

Mereka juga minta  pencabutan operasi militer di wilayah Papua lain, seperti di Kabupaten Nduga, Intan Jaya, dan Puncak. Mahasiswa menyebut operasi militer itu mengakibatkan pengungsian berkelanjutan di Nduga, Intan Jaya, Puncak Papua, dan juga Maybrat. Hal itu karena tindakan serampangan dan membabi buta yang dilakukan oleh TNI dan POLRI.

“Kami juga minta bebaskan Simon Waymbewer, Maikel Yaam Yosias Soawe dan Frins Soawe tanpa syarat. Mereka adalah warga sipil bukan pelaku separatis,” kata Yesef menambahkan.

Dalam pernyataanya mahasiswa Maybrat juga  minta agar akses jurnalis asing dan independen dibuka agar pemberitaan mengenai kondisi nyata rakyat setempat dilihat publik dan dunia internasional.

“Kami juga minta bebaskan tahanan politik Papua Victor Yeimo, Frans Waisini, Ham Nauw, Jon Bless, Doni Patilulu, Wenceslaus Saud, Kris Djamona, dan Bertus Fenemtruma tanpa syarat,” kata Yesef Fatem menegaskan.

Yesef  memperkirakan ada 7 ribu warga masyarakat sipil di kabupaten Maybrat wilayah Aifat Raya yang mencakupi lima distrik dan 50 kampung memilih mengungsi ke hutan, akibat terjadinya operasi oleh militer.

Kejadian itu tepatnya di kampung Kisor dan Awet Maym dan  telah membuat masyarakat mengungsi keluar dari desa mereka sejak tanggal, 3 September 2021 hingga saat ini, akibat operasi besar-besaran oleh militer Indonesia.

Saat ini para pengungsi sedang tersebar di beberapa kampung-kampung tetangga dan ada yang ke kota dan kabupaten sorong. Ada juga yang masih bertahan di hutan sejak mereka mengungsi, dengan bahan makanan seadanya sampai saat ini.

Aktivitas belajar-mengajar pun lumpuh, aktivitas ibadah tidak berjalan, peternakan, perkebunan milik warga tidak terurus, rumah dan harta benda semuanya ditinggalkan. (*)

Related posts