Papua No.1 News Portal | Jubi
TABEKEUW berangkat dari Ayauwe menuju Kampung Doyo Lama. Perjalanan perempuan tua yang tengah hamil itu dikuntit seorang raksasa. Narime, namanya.
Raksasa perempuan itu hendak menangkap Tabekereuw. Tabekereuw pun mempercepat langkah kakinya, bahkan berlari agar lekas sampai di tujuan. Narime tertinggal jauh ketika Tabekereuw tiba di Kampung Doyo Lama.
Setiba di Doyo Lama, Tabekereuw bersua dengan sesama perempuan tua yang sedang mandi di sungai di dekat Batu Duka Kambi. Tabekereuw memohon perlindungan. Dia meminta perempuan itu menyiapkan persembunyian agar terhindar dari kejaran raksasa.
Perempuan tua itu kemudian mengajak Tabekereuw duduk bersama di atas Batu Duka Kambi. Setelah duduk, keduanya pun seketika menghilang dan masuk ke batu besar tersebut.
Narime, sang perempuan raksasa terus mencari keberadaan Tabekereuw. Dia menyelisik setiap lokasi di sekitarnya. Narime akhirnya mengetahui keberadaan Tabekereuw yang bersembunyi di dalam batu bersama seorang perempuan tua setempat.
Narime mendekati batu persembunyian itu dan berusaha memecahkannya. Berbagai cara dilakukan, tetapi Batu Duka Kambi tidak juga pecah. Dia putus asa karena tidak sanggup dan tidak menemukan cara untuk mengeluarkan dua perempuan yang bersembunyi di batu itu.
Di tengah keputusasaannya, Narime menemukan potongan kuku jari Tabekereuw yang tercecer di sekitar batu. Berkat temuan itu, Narime bisa menjelma menjadi Tabekereuw.
Raksasa perempuan itersebut pun pulang kembali ke rumah Tabekereuw di Ayauwe. Warakau Doraime, suami Tabekereuw menyambut kehadiran Narime. Dia bahkan menghidangkan makanan lantaran menyangka raksasa itu ialah isterinya.
Waktu terus berlalu, Doraime tetap menyangka Narime merupakan Tabekereuw padahal isterinya saat itu masih mendekam di Batu Duka Kambi. Tabekereuw dan perempuan tua kenalannya terus dilanda kekhawatiran karena membayangkan Narime masih mengintai, dan siap menangkap bahkan membunuh mereka.
Selama berbulan-bulan, kedua perempuan tua itu menetap dalam Batu Duka Kambi hingga Tabekereuw melahirkan. Bayi yang dilahirkannya berwujud batu, tetapi bersuara manusia.
Tabekereuw menamai anaknya, Daime. Daime pun tinggal di dalam Batu Duka Kambi. Dia tumbuh semakin besar, dan kerap bermain di Doyo Lama.
Suatu ketika, keberadaan Daime diketahui bibi dari sebelah bapaknya. Dia melihat Daime sedang bermain ayunan di Doyo Lama.
Sang kakak melaporkan perjumpaannya itu kepada Doraime. Suami Tabekereuw tersebut baru menyadari kejadian sesungguhnya yang dialami sang istri. Kedok Narime pun terbongkar. Doraime menjadi tahu bahwa Narime sengaja menyamar sebagai Tabekereuw karena ingin menjadi istrinya.
Doraime kemudian pergi dan menyembunyikan diri di Doyo Lama, sembari memikirkan rencana menyingkirkan Narime. Niat itu akhirnya kesampaian. Doraime bersama adik kandungnya berhasil membunuh Narime.
Walaupun begitu, Doraime gagal bersua dan berkumpul kembali bersama isteri dalam wujud aslinya. Tabekereuw tetap bersemayam bahkan raganya telah menyatu dengan batu. Sejak saat itu, Batu Duka Kambi pun diyakini kekeramatannya. Dia dianggap sebagai batu hidup karena memiliki roh atau nyawa selayaknya manusia. (sumber cerita: Jac Hoogerbrugge, 1949)
Editor: Aries Munandar
