Papua No.1 News Portal | Jubi
Pekanbaru, Jubi – Kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi di provinsi Riau mengalami ledakan hingga 978 orang pada Rabu (14/7/2021) kemarin. Ini merupakan jumlah tertinggi sepanjang pandemi berlangsung sejak Maret tahun lalu.
“Ada banyak pasien yang datangnya dari luar Riau, semalam itu yang datang dari luar Provinsi Riau itu 60 orang. Bahkan 30 orang dari Jambi, ini kami harapkan dengan tingginya kasus ini semakin memperketat jalur masuk, bagaimana dengan kewajiban PCR itu memutus penyebaran COVID-19,” kata Gubernur Riau, Syamsuar, dikutip antara, Kamis (15/7/2021).
Baca juga : Varian baru Delta tersebar di 11 daerah luar Jawa, salah satunya Papua
Penularan Covid-19 daerah di Yogyakarta ini tertinggi dalam sepekan
Penularan Covid-19 meningkat, daerah ini kembali tutup destinasi wisata
Syamsuar mengatakan penambahan kasus baru itu, Riau mencatat rekor terbaru kasus terbanyak sejak pandemi Covid-19. “Tingginya angka kasus positif di Riau dalam beberapa hari ini juga disebabkan banyaknya orang yang masuk ke Riau dalam kondisi terkonfirmasi positif Covid-19,” kata Syamsuar menambahkan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir menyebut selain banyaknya penambahan dari kabupaten dan kota, kasus terbaru yang semakin meningkat masuk dari Provinsi tetangga Jambi.
“Ada pemeriksaan swab PCR dari salah satu perusahaan, dan tercatat sebagai penambahan kasus positif Provinsi Riau,” kata Yuliani.
Ia menyebut ada penambahan cukup tinggi dari luar Riau, kemarin ada pemeriksaan ada 30 orang pegawai dari perusahaan yang berada di Muara Bungo, Jambi. Mereka melakukan pemeriksaan rapid antigen, ternyata positif dan ditindaklanjuti dengan PCR.
“Mereka melakukan pemeriksaan di Kota Pekanbaru, seharusnya kan Muara Bungo masuk Jambi, tetapi nambahkan masuknya ke Provinsi Riau,” kata Yuliani menjelaskan.
Menurut dia, kasus positif Covid-19 di Riau akan terus bertambah jika masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan, 5 M yakni dengan tetap memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mencegah mobilitas interaksi.
“Kami melihat masih banyak masyarakat tidak menjalankan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro,” katanya. (*)
Editor : Edi Faisol
