Papua No.1 News Portal | Jubi
Bogor, Jubi – Minimnya tenaga medis menjadi salah satu kendala dalam menanggulangi pandemi covid-19 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pesebarannya dan keterbatasan peralatan membuat persoalan semakin pelik.
“Jumlah dokter hanya 2.238, terdiri atas 823 dokter umum, 345 dokter spesialis, dan 139 dokter gigi. Dokter paru tentu jauh lebih sedikit lagi,” kata Bupati Ade Yasin, Selasa (21/4/2020).
Jika diasumsikan dengan jumlah penduduk yang mencapai 5,9 juta jiwa, seorang dokter harus melayani sekitar 2.500 pasien di Kabupaten Bogor. Peralatan mereka juga terbatas.
“Masalah semakin pelik karena persebaran dokter, perawat, puskesmas dan tempat tidur di rumah sakit tidak merata. Peralatan mereka juga terbatas sehingga amat rentan terserang virus corona,” kata Ade.
Namun, dia mengaku terus memperjuangkan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi menekan angka penyebaran covid-19. Itu termasuk pergerakan atau mobilitas warga dari DKI Jakarta maupun sebaliknya.
“Jakarta menjadi episentrum wabah covid-19 di Indonesia. Sekitar separuh kasus dan jumlah kematian disumbang oleh Jakarta. Jika pusat episentrum diperluas dengan memasukkan kota/kabupaten di sekitar Jakarta atau Jabodetabek, porsinya mencapai sekitar 70 persen,” jelas Ade.
Ade pun berkeras meminta kereta rel listrik (KRL) berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Dia mendesak Kementerian Perhubungan mengkaji ulang aturan yang diterbitkan pada pekan lalu itu. “Saya berharap KRL Jabodetabek setop untuk sementara, dan Kemenhub mengkaji ulang keputusan mereka.” (*)
Editor: Aries Munandar
