Komnas HAM turun tangan terkait polisi pukuli empat warga Banyuwangi

Papua
Ilustrasi tindak kekerasan - Pixabay.com.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi — Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) turun tangan akan akan menyelidiki dugaan kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian kepada empat warga Pakel, Licin, Banyuwangi, Jawa Timur.  Tercatat Komnas HAM menerima aduan dari perwakilan warga yang didampingi oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur dan LBH Surabaya pada Rabu (19/1/2022) kemarin. Selain mengadu terkait kekerasan aparat, warga juga mengadukan konflik lahan yang menyangkut Hak Guna Usaha (HGU) Perkebunan di wilayah tersebut.

Read More

“Terkait peristiwa dan aduan tersebut, Komnas HAM RI sudah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak kepolisian serta akan menindaklanjutinya dengan mengirimkan tim ke lapangan,” kata Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara, Rabu (19/1/2022).

Baca juga : Setelah ditangkap dan terluka tembak sedrik diduga dipukul polisi
Pemanggilan paksa Fatia dan Haris dinilai sebagai bentuk kesewenangan polisi
Polisi datangi rumah koordinator Kontras Fatia Maulidiyanti hendak jemput paksa

Komnas HAM akan meminta keterangan para pihak, termasuk aparat kepolisian. Sehingga peristiwa tersebut bisa menjadi lebih terang.  Ia juga meminta agar kepolisian bekerja lebih humanis, persuasif, dan melindungi warga yang sedang berjuang untuk hak-haknya.

“Dengan tidak melakukan kekerasan atau bentuk-bentuk tindakan lain yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia,” kata Beka menambahkan.

Kasus polisi pukuli warga Banyuwangi disampaikan  LBH Surabaya yang menyebut kejadian itu terjadi pada Jumat (14/1/2022) sekitar pukul 00.21 WIB. Kejadian itu terjadi di tanah sengketa antara warga Pakel dan salah satu perusahaan perkebunan.

Pengacara LBH Surabaya, Mohammad Soleh mengatakan pada tengah malam itu, puluhan personel Polresta tiba-tiba mendatangi kediaman warga. Ia menyebut terdapat dua mobil dengan 15 personel yang dipimpin oleh Kasat dan Kapolsek Licin.

Warga lantas bertanya maksud kedatangan tersebut. Namun, empat orang yang terdiri dari 1 anggota solidaritas berinisial ES (21) dari mahasiswa dan 3; FZ (19), HR (30) dan WL (43) warga malah dipukul. Soleh menyebut ada yang diinjak bahkan ada yang dipukul hingga kepalanya bocor.

“Sebelum 1 solidaritas dan 3 warga mendapat kejelasan maksud polisi masuk di dalam lahan tanpa pemberitahuan, warga telah mengalami pemukulan secara brutal, bahkan dihajar, diinjak, bahkan dipukul dengan gagang senjata hingga mengalami luka bocor di kepala,” kata Soleh. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Related posts