Kepulauan Marshall akan menambah tinggi daratan pulau-pulau

Negara-negara atol semakin sering melaporkan naiknya air saat badai. - RNZI/Hilary Hosia
Negara-negara atol semakin sering melaporkan naiknya air saat badai. – RNZI/Hilary Hosia

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Giff Johnson (editor di Marshall Islands Journal dan koresponden untuk RNZ Pacific)

Read More

Menghadapi kemungkinan akan tenggelam akibat naiknya permukaan laut, Kepulauan Marshall, untuk pertama kalinya, akan memfokuskan upayanya menemukan cara agar dapat menaikkan ketinggian daratan dan secara fisik mengangkat pulau-pulau di negara ber-atol ini.

“Meninggikan pulau-pulau kita adalah tugas yang merisaukan, tetapi hal ini harus tetap dilakukan,” tegas Presiden Hilda Heine, dalam sebuah wawancara dengan koran Marshall Islands Journal yang diterbitkan Jumat lalu (22/2/2019).

“Kami memerlukan tekad secara politik, dan terutama komitmen para pemimpin adat, untuk memastikan hal ini terselesaikan. Itulah sebabnya kami sedang merencanakan sebuah dialog nasional, untuk mempertemukan semua pihak yang terlibat,” tambahnya.

Prospek masa depan Kepulauan Marshall dan negara-negara atol lainnya tidak baik, menurut pejabat-pejabat pemerintah yang terlibat dalam perubahan iklim dan pekerjaan respons bencana.

“Dalam beberapa dekade terakhir, negara-negara atol telah mengalami naiknya frekuensi banjir dan air pasang, kekeringan tingkat berat, kejadian pemutihan karang, dan dampak-dampak lainnya dari perubahan iklim yang juga harus diperhatikan,” menurut ‘Policy Note’ tentang ‘Krisis Iklim’, yang diterbitkan oleh Kantor sekretaris negara Kepulauan Marshall, Marshall Islands Office of the Chief Secretary, baru-baru ini.

“Ke depannya, ada banyak alasan untuk percaya bahwa kondisi-kondisi dan prospek dalam bertahan hidup hanya akan memburuk (akibat perubahan iklim),” lanjutnya.

Tahun lalu, pejabat senior Kepulauan Marshall mulai secara informal mendiskusikan opsi untuk menaikkan ketinggian permukaan pulau-pulau di negaranya, untuk melawan naiknya permukaan laut yang diprediksi akan terjadi, dan memastikan bahwa Kepulauan Marshall akan mempertahankan tapak sebagai suatu bangsa.

Mengangkat pulau-pulau itu sekarang merupakan respons perubahan iklim utama Kepulauan Marshall.

Sekretaris Ben Graham berkata, mengangkat pulau itu secara fisik adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Kepulauan Marshall dari kepunahan. Sebagian besar pulau-pulau di negara ini memiliki ketinggian kurang dari dua meter (6,5 kaki) di atas permukaan laut.

Perlu kerja sama berbagai pihak

Presiden Hilda Heine mengatakan Kepulauan Marshall perlu memusatkan perhatiannya pada jenis adaptasi baru ini, agar dapat bertahan hidup di era perubahan iklim.

“Apa pun pendekatan yang akan dipilih, itu akan melibatkan pemilihan pulau mana yang akan diangkat, ditimbun, atau dibangun di atasnya,” katanya.

“Semua pemangku kepentingan Marshall, namun terutama pemilik tanah adat, harus berdiri di garis depan diskusi ini jika kita ingin menggerakkan pembicaraan ini ke depan. Kita memiliki banyak ilmuwan dan pihak lainnya yang tertarik untuk membantu Kepulauan Marshall. Kita harus bersatu sebagai sebuah bangsa, karena ini tentang kelanjutan hidup kita sebagai negara, sebagai bangsa, dan sebagai rumpun budaya.”

Bekerja dengan negara-negara atol lainnya

Kepulauan Marshall juga ingin meningkatkan kerja samanya dengan tiga negara atol-atol lainnya di dunia seperti Kiribati, Tuvalu dan Maladewa, untuk meneruskan momentum mengenai ‘adaptasi’ perubahan iklim ini. Presiden Heine adalah ketua suatu koalisi melawan perubahan iklim, Coalition of Atoll Nations Against Climate Change (CANCC), yang mewakili keempat negara ini.

“Sebagai sebuah kelompok dengan masalah-masalah yang sama mendesaknya, negara-negara atol perlu bersatu untuk bersama-sama merumuskan kekhawatiran khusus mereka, dan menentukan sikap dan rencana masa depan mereka, serta mengidentifikasi keperluan secara finansial terkait dampak dari perubahan iklim, dan kemudian, secara kolektif menyampaikan argumen mereka kepada mitra-mitra donor,” jelas Heine.

“Suara mereka akan lebih kuat jika mereka bersatu dalam upaya ini. Dunia belum memahami betapa besarnya transformasi yang akan diperlukan untuk adaptasi, dan kita belum melangkah terlalu jauh dalam mengimplementasikan rencana aksi dan kebijakan-kebijakan untuk adaptasi.”

“Kepulauan Marshall terus memperjuangkan upaya-upaya mitigasi dan decarbonization (penggunaan sumber daya dengan kandungan karbon rendah yang emisi gas rumah kacanya minim) secara global dan lokal, tetapi sekarang kita harus memberi perhatian yang lebih besar pada adaptasi dan membangun ketahanan, baik di panggung global maupun di rumah sini,” kata Graham.

Dia mengatakan pemerintah Kepulauan Marshall ingin menggunakan pendekatan kolaboratif dengan tiga negara atol lainnya di dunia, untuk berbagi ide tentang adaptasi dan bangunan yang tahan bencana, termasuk konsep membangun pulau-pulau baru yang ditinggikan sebagai langkah adaptasi jangka panjang.

Selain itu, tujuannya adalah “untuk bekerja secara bersama-sama, sebagai kelompok Coalition of Atoll Nations Against Climate Change, adalah agar kita membuat lembaga-lembaga global dan donor-donor besar, dan mitra-mitra lainnya mempertimbangkan keadaan luar biasa yang dihadapi bangsa dan masyarakat kita, terutama dengan prakiraan dan proyeksi mengenai kenaikan permukaan laut.”

Graham mengatakan dengan terus terang, “Kami adalah satu-satunya negara di dunia ini yang sekarang menghadapi prospek nyata untuk sepenuhnya hilang dari peta, jadi kami memerlukan dukungan yang cepat untuk adaptasi dari mitra-mitra utama kami.” (RNZI)

 


Editor: Kristianto Galuwo

Related posts