Papua No. 1 News Portal | Jubi
Merauke, Jubi – Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke (KAME), Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC mengatakan jika kaum berjubah (pastor) betul-betul ingin melibatkan diri bersama masyarakat ketika melakukan aksi demonstrasi, itu tak melawan keagamaan.
“Boleh saja, namun sering jangan juga. Biarlah dilakukan oleh masyarakat. Kita kaum berjubah memberikan saja pandangan moral, seperti saya yang tak turun ke jalan. Tetapi suara saya lebih kuat daripada di jalan,” ungkapnya, saat jumpa pers di rumah keuskupan, Kamis (22/8/2019).
Ditanya dengan kehadiran kaum berjubah, secara tidak langsung meredam massa, Mgr Mandagi mengaku dengan imbauan juga merupakan salah satu satu cara meredam.
“Saya lebih kuat meredam. Karena orang di jalan belum bisa meredam dan bisa menarik kekerasan. Kalau seorang pastor kena pukulan sedikit, itu kan berbahaya,” ungkapnya.
Ditanya berbagai desakan agar Presiden RI, Jokowi ke Papua, Mgr Mandagi mengatakan bagaimanapun juga harus datang karena Papua adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Pemerintah pusat harus mencintai rakyat, karena telah diperlakukan kurang baik orang lain,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam aksi yang dihadiri kurang lebih 1.000 orang asli Papua beberapa hari lalu, Pastor Pius Manu, Pr bergabung dan mendampingi secara langsung.
“Kenapa saya dampingi, karena terdapat banyak mama-mama Papua serta anak-anak. Juga mengantisipasi agar tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bersama,” katanya. (*)
Editor: Dewi Wulandari
