Jurnalis Papua Nugini alami diskriminasi saat kunjungan Turnbull

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Port Moresby, Jubi – Pelarangan meliput oleh jurnalis Papua Nugini saat kunjungan Perdana Menteri Australia ke Port Moresby disebut sebagai praktek warisan kolonial. 

Saat Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull berkunjung ke Port Moresby, jurnalis lokal dilarang menghadiri konferensi pers Turnbull saat ia mengunjungi taman makam pahlawan Bomana. Saat itu, konferensi pers digelar oleh Turnbull dan Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neill. Konferensi pers saat itu hanya boleh dihadiri jurnalis Australia.

Empat senior jurnalis dari Post Courier juga ditolak bergabung dalam acara sarapan bersama antara komunitas bisnis PNG dengan Turnbull. Padahal, keempat jurnalis tersebut telah membayar tiket masuk even itu sebesar 280 dolar AS.

Ketua Forum Kebebasan Pasifik (PFF), Monica Miller mengatakan bahwa tindakan ini jelas merupakan tindakan diskriminatif. “Ini menunjukkan warisan kolonial dan seluruh jurnalis di Pasifik termasuk di Australia seharusnya angkat bicara tentang ini,” ujarnya.

Kantor Perdana Menteri Australia tidak menyangkal bahwa media lokal memang dilarang menghadiri beberapa even tertentu. Mereka mengatakan bahwa kadang dalam kunjungan kenegaraannya, Turnbull akan membuka kesempatan wawancara spontan dengan jurnalis dari Australia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan seputar isu domestik yang relevan untuk pemberitaan di Australia. **

 

 

 

Related posts