Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Jayapura, Jubi – Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Papua Albert G Wanimbo menyatakan tidak boleh ada orang mengatasnamakan agama untuk merusak keberagaman di Papua. Wanimbo menyatakan tradisi warga di Papua untuk hidup berdampingan tanpa membedakan etnis dan agama bisa rusak jika orang seperti Ja’far Umar Thalib dibiarkan menyebarkan pandangan intoleran.
“Negara harus berani mengusir orang-orang seperti Jafar Umar Talib dari Papua. Keberadaannya telah mengoyak perdamaian di antara warga dengan berbagai latar belakang agama dan etnis di Papua. Papua merupakan tanah yang damai, aman bagi siapapun yang ada ada di tanah Papua, namun jangan dibiarkan orang seperti Ja’far menyebarkan cara pandang intoleran,” kata Wanimbo, Minggu (10/3/2019).
Kekerasan dan perusakan itu sempat menimbulkan reaksi warga yang marah, sehingga para warga menutup akses jalan utama di Koya Barat. Selain itu, sejumlah unjukrasa juga terjadi di Jayapura, menolak keberadaan JUT dan pengikutnya di Papua. Ja’far Umar Thalib bersama enam orang pengikutnya-IJ, AR, AD, AJT, M, dan AY-telah ditetapkan sebagai tersangka penggunaan kekerasan terhadap orang dan barang, sebagaimana diatur Pasal 170 ayat (2) angka 1 KUHP sejak 28 Februari 2019.
Wanimbo menyebut kekerasan yang dilakukan para pengikut Ja’far Umar Thalib itu membahayakan keragamakan di Papua. Ia mengibaratkan Papua sebagai miniatur Indonesia, karena orang dengan latar belakang etnis dan agama yang berbeda-beda ada di Papua.
“Sejak lama orang asli Papua hidup berdampingan dengan orang asli Papua yang lain, dan hidup berdampingan dengan para pendatang di Papua. Kami warga Papua telah tahu untuk memilah dan memilih mana yang baik dan buruk bagi kami,” ujar Wanimbo.
Sementara itu, aktivis perdamaian dari LSM Ilalang, Munawir mengurai bahwa masalah di Papua bukan masalah agama atau radikalisme. Munawir menegaskan persoalan di Papua adalah masalah bagaimana pemerintah membangun dan menyejahterakan warga Papua.
“Kami menolak pihak yang mengembangkan konflik ataupun kekerasan untuk merusak keberagaman Papua. Kami meminta aparat penegak hukum menindak tegas kekerasan yang telah terjadi,” kata Munawir.(*)
Editor: Aryo Wisanggeni G
