Papua No. 1 News Portal | Jubi
Sentani, Jubi – Ratusan pedemo dalam aksi damai yang terdiri dari Dewan Adat Suku (DAS) Moi, pemuda, perempuan Tanah Merah dan Moi, ikatan mahasiswa dan sejumlah masyarakat kampung di pesisir Wilayah Pembangunan IV, mendatangi DPRD Kabupaten Jayapura, pada Jumat (13/3/2020).
Koordinator aksi damai, Elkana Demianus Sorontouw, mengatakan ruas jalan Sentani-Depapre dan sejumlah jalan yang berada di pesisir pantai utara, sangat membutuhkan perhatian serius Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Provinsi Papua.
Menurut mereka, kondisi jalan saat ini sangat tidak layak dan telah banyak menelan korban jiwa dari warga pengguna jalan. Untuk itu, kata Elkana, salah satu tuntutan yang disampaikan adalah perbaikan infrastruktur jalan sebelum pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 Papua.
“Sudah cukup lama masyarakat kita menderita dengan kondisi jalan yang rusak. Sudah banyak korban juga, ada yang melahirkan di jalan, ada yang meninggal karena perjalanan terhambat dengan kondisi jalan, belum lagi kecelakaan kendaraan roda dua maupun roda empat,” uajr Elkana, saat ditemui di Sentani, Sabtu ( 14/3/2020).
Dikatakan, ruas jalan Sentani-Depapre yang telah dikerjakan tidak selesai, akibatnya kondisi jalan tersebut bertambah buruk.
“Kesannya pemerintah hanya menyelamatkan administrasi pengerjaannya saja, sedangkan yang menjadi korban adalah masyarakat kecil di bawah, yang terdampak jalan rusak hingga saat ini,” jelasnya.
Menurutnya, aspirasi sudah disampaikan kepada bupati dan juga melalui DPRD Kabupaten Jayapura. Untuk itu ia berharap agar aspirasi tersebut dapat dikawal hingga ada realisasi di lapangan.
“Demo seperti ini sudah sering dilakukan oleh komponen masyarakat, pihak legislatif yang menjadi perwakilan masyarakat hendaknya mengawal hingga tuntas,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Jayapura, Klemens Hamo, mengatakan aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat dalam aksi damai akan diteruskan kepada pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait.
“Dampaknya memang sangat terasa, apalagi masyarakat ekonomi lemah di kampung-kampung yang ingin membawa hasil kebun mereka lalu melewati jalan ini ke pasar. Banyak yang tidak sampai karena barang jualannya sudah rusak sebelum sampai di pasar,” katanya. (*)
Editor: Kristianto Galuwo
