Papua No. 1 News Portal | Jubi
San Salvador, Jubi – Penggunaan bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah di El Salvador belum menyentuh rakyat kecil yang dinilai masih gagap teknologi. Sejumlah warga di negara Amerika Tengah itu mengaku belum bisa memahami cara pengunaan bitcoin yang berbasis internet.
Salah satunya Bertila Garcia, pemilik warung di sudut kota San Salvador, mengaku tak pernah menerima bayaran nontunai selama puluhan tahun berdagang.
“Saya tidak paham. Tidak paham sama sekali,” kata Garcia tentang bitcoin, dikutip Antara, Jum’at (1/10/2021).
Baca juga : Remaja ini menjadi otak peretasan akun Twitter sejumlah tokoh penting
Garcia mengaku belum ada pembeli yang minta untuk membayar dengan bitcoin sejak mata uang kripto itu mulai digunakan pada 7 September. Masalah lain yang ia hadapi tak mempunyai ponsel cerdas. Dia juga tak mengerti cara mengunduh dan menggunakan Chivo, aplikasi dompet digital yang disediakan pemerintah untuk bertransaksi dengan bitcoin.
El Salvador menjadi negara pertama di dunia yang mengadopsi mata uang kripto sebagai alat pembayaran yang sah. Presiden Nayib Bukele, mengatakan penggunaan bitcoin bisa menghemat sekitar 400 juta dolar AS atau Rp5,7 triliun per tahun dari biaya pengiriman uang oleh para migran El Salvador di luar negeri.
Penggunaan bitcoin juga meningkatkan akses ke layanan keuangan bagi masyarakat yang tidak memiliki rekening bank, kata Bukele.
“Sekitar seperempat dari 6,4 juta penduduk El Salvador menggunakan Chivo, kata presiden muda yang paham teknologi itu di Twitter pada 20 September lalu.
Namun para ahli mengungkapkan kekhawatiran terhadap privasi data dan volatilitas harga bitcoin.
Mereka juga memperingatkan bahwa orang-orang yang tidak memiliki akses ke teknologi dan koneksi internet, seperti lansia dan warga pedesaan, bisa terpinggirkan oleh kebijakan itu. Bank Dunia menyebut separuh penduduk El Salvador seperti Garcia tidak memiliki akses internet.
“Bitcoin bukanlah teknologi yang mudah diadopsi… terutama bagi orang tua yang ingin mendapat kiriman uang,” kata Jean-Paul Lam, profesor di Universitas Waterloo Kanada.
Pengiriman uang dari luar negeri, terutama Amerika Serikat, menyumbang lebih dari 25 persen produk domestik bruto (PDB) negara itu tahun lalu, menurut Bank Dunia. Kebijakan kontroversial itu mengharuskan pelaku bisnis menerima pembayaran dalam bitcoin bersama dolar AS, mata uang resmi El Salvador sejak 2001.mata uang
Di pesisir Pasifik, turis dan sejumlah restoran dan hotel telah menggunakan uang digital itu selama tiga tahun. Toko-toko di El Zonte, yang dikenal sebagai Pantai Bitcoin, memasang pengumuman bertuliskan “Kami menerima bitcoin”.
Di tempat lain, antrean panjang terlihat di luar anjungan tunai (cashpoint) bitcoin yang dipasang pemerintah, di mana orang dapat menukar bitcoin mereka dengan dolar. Beberapa dari mereka mungkin hanya menunggu giliran untuk mencairkan bonus bitcoin 30 dolar atau Rp429 ribu dari Chivo bagi para pendaftar. (*)
Editor : Edi Faisol
