Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,
Tarawa, Jubi – Panel-panel tenaga surya berskala besar diluncurkan di Tarawa pada Jum’at (23/9/2016). Ini merupakan proyek Bank Dunia yang diharapkan dapat menghemat perekonomian Kiribati sebesar 290 ribu dollar A.S untuk kebutuhan energi bahan bakar.
Hal ini sebanding dengan kurang dari 230 ribu liter diesel yang digunakan per tahun atau telah berhasil mengurangi negara-negara dari emisi gas rumah kaca sebesar 765 ton per tahun.
Dalam kapasitas puncaknya panel-panel surya berskala besar ini dipasang di empat fasilitas milik pemerintah yang dapat menggerakkan 548 kilowatt energi atau sebanding dengan 5.480 energi lampu pijar.
Hal ini akan menyuplai jaringan energi listrik untuk fasilitas-fasilitas publik seperti sekolah rumah sakit, dan bangunan-bangunan lainnya.
Dalam acara peluncuran itu, Wakil Presiden Kiribati Korabi Nenem mengatakan bahwa sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh dampak-dampak perubahan iklim dan itu hal penting bagi Kiribati untuk menerapkan reduksi ketergantungan terhadap energi fosil.
Pada 2008, emisi gas rumah kaca dari Kiribati menghabiskan 29,3 ribu metric ton. Ini kontras dengan 6983 juta metric ton yang dihasilkan oleh AS di tahun yang sama.
Berakhir pada 2018, Jaringan Sambungan Energi Surya Kiribati berkoordinasi dengan Bank Dunia dan didanai melalui bantuan sebesar 1 juta dollar AS dari Dana Lingkungan Global (GEF) dan 2,92 juta dollar AS dari Pemerintah Australia melalui Fasilitas Infrastruktur Kawasan Pasifik (PRIF).
Kiribati sangat bergantung pada impor BBM sebagai sumber energi listrik, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Konsumsi energy per kapita di kepulauan itu tergolong rendah. Lebih dari ¾ rumah tangga di wilayah pedesaan di Kepulauan Gilberts dan Line menggunakan kayu bakar untuk memasak. Setelah kayu bakar, bahan energi utama lainnya yaitu minyak tanah. Sementara, sumber energi listrik di wilayah pedesaan paling besar menggunakan tenaga matahari. (*)
