Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Meskipun memiliki perairan yang luas dan hasil tangkapan ikan luat yang banyak, Papua tidak bisa langsung mengekspor ikan tangkapan nelayannya. Seluruh ikan tuna yang ditangkap di perairan Papua harus dikirimkan dahulu ke Bali, untuk kemudian diekspor ke luar negeri, atau diperdagangkan di Jakarta.
Sales Service Manager Garuda Indonesia Perwakilan Jayapura, Radhitya Prastanika mengemukakan bahwa produk perikanan ikan dan vanili menjadi barang populer yang secara rutin dikirimkan Garuda Indonesia ke Bali. Hasil tangkapan lain seperti kepiting, udang juga dikirimkan oleh pedagang dari Timika ke Bali.“Dari Bali, tuna akan diekspor ke luar negeri, ke Jakarta atau Makasar, atau dikonsumsi di Bali,” ujar Radhitya kepada Jubi, Jumat (15/11/2019).
Radhitya menjelaskan, Bali menjadi simpul pengiriman tangkapan tuna yang strategis, karena ikan tuna yang ditangkap di Papua pada pagi hari sudah tiba di Bali saat siang hari. Malamnya bisa dikirim ekspor ke Jepang dan destinasi lainnya. Per harinya kira-kira 3-4 ton. Apalagi sekarang ini musim penangkapan ikan [yang melimpah], cukup tinggi frekuensinya, “ ujar Radhitya.
Produk lain seperti vanili, juga tidak pernah langsung diekspor dari Papua ke luar negeri. Vanila biasanya dikirim ke Surabaya atau Yogyakarta, dengan berat sekitar 500 kilogam dalam setiap pengiriman.
Menurut Radhitya, Garuda Indonesia telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea Cukai, mencari cara agar ikan tangkapan dari Papua bisa langsung diekspor ke luar negeri. Akan tetapi, ekspor langsung dari Papua itu masih terhambat sejumlah masalah.
“[Untuk ekspor langsung dari Papua masih] terkendala gudang penampungan ikan. Selain itu, belum ada perusahaan berlisensi kargo produk perikanan ekspor internasional. Padahal besar harapan Garuda agar produk Papua bisa langsung ekspor,” lanjutnya.
Radhitya meyakini Papua akan bisa ekspor sendiri jika ada kesungguhan dari semua pemangku kepentingan ekonomi di Papua. Jika Papua membangun gedung penyimpanan ikan yang akan diekspor, dan memiliki eksportir khusus produk perikanan, Papua akan bisa mengekspor langsung hasil tangkapan ikan dari perairan Papua.
Untuk memacu pertumbuhan ekonominya, Papua harus terus menyeimbangkan berbagai sektor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Saat ini, PDRB Papua terlalu bertumpu kepada sektor pertambangan dan penggalian.
Kepala Bidang Nerwilis BPS Papua, Eko Mardiana menyatakan perekonomian Papua pada triwulan III-2019 juga mengalami kontraksi sebesar -15,11 persen dibanding triwulang III-2918. Pelambatan itu antara lain terjadi karena kontraksi sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai -38,31 persen.
Eko Mardiana mengungkapkan perlu adanya pusat perhatian baru pemerintah daerah untuk mendongkrak perekonomian Papua non tambang. “Ekonomi Papua ini akan menggeliat karena banyaknya potensi Papua yang masih terpendam di Alam dikarenakan masyarakat masih konvensional mengolahnya sehingga saat ini perekonomian Papua masih bertumbuh di tambang saja padahal sekotor tambang sendiri tidak secara umum menghidupi Papua. Sektor yang menyentuh rakyat seperti sektor pertanian,pariwisata, industri kreatif dan lain-lain,” katanya. (*)
Editor: Aryo Wisanggeni G
