Dinkes Kepulauan Yapen jelaskan kasus meninggalnya Pdt Piet Hein Jowey

Vaksin Papua
Ilustrasi Vaksin - BPOM

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen, Karolus Tanawani menjelaskan kasus meninggalnya Pdt Piet Hein Jowey pada tanggal 20 Juli 2021 lalu. Pdt Piet Hein Jowey meninggal 11 hari setelah mengikuti vaksinasi COVID-19. Tanawani mengimbau setiap warga yang baru mengikuti vaksinasi menghindari aktivitas/kerja berat, agar tubuh tidak kelelahan.

Saat dihubungi Jubi pada Kamis (29/7/2021), Karolus Tanawani membenarkan bahwa Pdt Piet Hein Jowey menerima suntikan dosis pertama vaksin COVID-19 pada 9 Juli 2021. Saat itu, Pdt Piet Hein Jowey mengikuti vaksinasi massal yang digelar Dinas Kesehatan Kepulauan Yapen di Pasar Sentral Aroro Iroro, Serui, ibu kota Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.

Read More

“Jenis Vaksinasi adalah Sinovac. Saat beliau akan mengikuti vaksinasi, almarhum Pdt Piet Hein Jowey, kami melaksanakan sesuai dengan prosedur tetap yang ada. Kami melakukan pendaftaran, kami melakukan skrining. Saat skrining, kami melakukan pemeriksaan kolesterol, gula darah, dan asam urat. Kami juga melakukan tes usap antigen, mengukur tekanan darah. [Itu dilakukan kepada] semua warga yang berdatangan untuk mengikuti vaksinasi,” kata Tanawani.

Baca juga: Kadinkes Papua: Mayoritas penderita korona adalah yang belum divaksin

Tanawani jika seorang warga tidak lolos skrining, maka warga itu tidak akan diizinkan mengikuti vaksinasi. “Kalau khusus kepada Pdt Piet Hein, beliau punya penyakit gula darah. Tetapi saat dokter melakukan anamnesa dan skrining terhadap beliau, kadar gula darahnya normal, 200 mili gram perdesiliter,” kata Tanawani.

Tanawani mengatakan, skrining bertujuan agar mengetahui penyakit bawaan dan kondisi kesehatan setiap orang yang akan divaksin. Hasil skrining dijadikan dasar bagi tenaga medis untuk memutuskan apakah seseorang bisa divaksi atau tidak.

“Jadi saat skrining itu kondisi kesehatan beliau masih berada di ambang normal. Makanya beliau langsung divaksin. Setelah dilakukan vaksin, sesuai dengan prosedur pelaksanaan vaksin, yang bersangkutan kami meminta untuk istirahat selama setengah jam [di lokasi vaksinasi]. Kami kasih minum teh kotak, sambil kami melakukan observasi selama setengah jam. Setelah itu kami persilahkan pulang,” katanya.

Tanawani menyatakan setiap warga yang telah divaksin akan diberi nomor telepon darurat yang bisa dihubungi, jika penerima vaksin mengalami gejala sakit. “Kalau ada alergi atau ada rasa lain-lain dalam tubuh  untuk segera konsultasi kepada dokter atau petugas kesehatan lainnya. Setelah selesai divaksin beliau pulang ke rumah.  Kami tidak pernah lagi dihubungi atau diberikan informasi terkait gejala-gejala yang dialami oleh almarhum pendeta tersebut,” katanya.

Baca juga: 66 ribu warga Merauke telah divaksin

Tanawani mengatakan pihaknya mendapat informasi bahwa pada 19 Juli 2021, Pdt Piet Hein Jowey mengikuti ritual keagamaan dari denominasi gereja GPDI, yaitu kegiatan pengaturan obor di Serui.

“Dari tanggal 9 sampai 20, selama 11 hari, kami tidak pernah diberitahu oleh keluarga tentang kondisi kesehatan bahkan aktivitas yang beliau lakukan. Kami  mendapatkan informasi setelah beliau meninggal dunia. Seandainya ada laporan yang masuk, kami bisa Ingatkan bahwa beliau harus istirahat terlebih dahulu dan jangan beraktivitas terlalu lebih selama proses dosis itu bekerja,” kata Tanawani.

Sebelumnya, salah satu kerabat dekat Pdt Piet Hein Jowey, Ediso Wobaibao mengatakan ia sempat bertemu dengan mendiang Pdt Piet Hein Jowey sesudah menerima dosis pertama vaksin COVID-19. Menurutnya, saat itu Pdt Piet Hein bercerita baru saja disuntik vaksin. “Bapak Hein Jowey memang ada sakit lain, namun bisa dikendalikan,” tutur Wobaibao pada pekan lalu.

Wobaibao menuturkan ia sempat mendatangi Puskesmas Serui, mempertanyakan penyebab meninggalnya Pdt Piet Hein Jowey. Wobaibao menyatakan tidak ada petugas yang bisa menjawab masalah itu. “Kami harap agar petugas kesehatan harus transparan dengan kejadian seperti begini, sebab itu menyangkut nyawa,” katanya.

Setelah divaksin, hindari kerja berat

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen, Karolus Tanawani mengibau setiap warga yang baru menerima vaksin COVID-19 tidak melakukan aktivitas/kerja berat, agar tubuh tidak kelahan. Ia menyatakan seorang warga peserta vaksinasi bernama Gerson Karuri juga sempat drop kesehatannya, gara-gara bekerja berlebihan setelah menerima suntikan vaksin COVID-19.

“Setelah divaksin, beliau pulang ke kampung selalu melakukan aktivitas yang berat,  angkat papan, bekerja fisik. Malamnya [kondisi kesehatan beliau] down. Bupati dan saya juga dapat cerita, sehingga kami langsung mengontak petugas Puskesmas terdekat untuk datangi beliau, dan melakukan pelayanan kesehatan kepada beliau. Setelah petugas kami ke sana, puji Tuhan beliau dalam kondisi baik-baik saat ini ,” kata Tanawani.

Taniwani menekankan setiap warga yang baru divaksin harus menjaga istirahat yang cukup, agar kondisi kesehatannya tetap baik. Hal itu diperlukan untuk memberi kesempatan suntikan vaksin bekerja di dalam tubuh. “Artinya kalau masyarakat setelah divaksin, harus istirahat, agar supaya kondisi badan kita tetap fit,” katanya.

Penerima vaksin yang mengalami gejala sakit juga diminta Taniwani segera menghubungi nomor telepon layanan kesehatan yang diberikan pada saat vaksinasi. Hal itu akan memudahkan petugas untuk menemui dan merawat penerima vaksin yang sakit.

Harus transparan dan aman

Koordinator West Papua Interest Association WPIA, yang berdomisili di Jayapura, Ronald Waromi mengatakan, Pdt Piet Hein Jowei dari denominasi GPDI meninggal pada 20 Juli 2021 di Serui. Ia menyatakan Pdt Piet Hein Jowei  dalam kondisi sehat sebelum menerima vaksin COVID-19.

“Bapak Pendeta melakukan vaksin COVID-19 agar bisa berangkat ke Jayapura. Tetapi setelah mendapat suntikan vaksin pada 9 Juli 2021, Pendeta merasa badan kurang enak dan lemah. Akhirnya Pdt Piet Hein Jowey meninggal dunia,” kata Waromi pada pekan lalu.

Waromi menyatakan sangat terkejut dan berduka menerima kabar meninggalnya Pdt Piet Hein Jowei. Ia menjelaskan Pdt Piet Hein Jowei adalah Ketua Perwakilan West Papua Interest Association Yapen Waropen. Pdt Piet Hein Jowei juga anggota delegasi West Papua dalam sidang tahunan UN Permanent Forum on Indigenous Issues di Perserikatan Bangsa-bangsa, New York, Amerika Serikat pada 2015 dan 2016.

“Kami sangat kehilangan tokoh masyarakat pribumi Papua dari daerah Saireri. Kami, bersama teman-teman WPIA di Tanah Papua dan di luar negeri turut berduka cita yang sangat mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Bapa Dai, selamat jalan pejuang Indigenous Peoples Human Rights Defender untuk selamatkan orang Papua yang tersisa di Negeri Papua ini. Kami sangat sedih atas berpulangnya tokoh Papua sebagai penyambung lidah orang asli Papua yang menderita di tanahnya sendiri,” katanya.

Baca juga: DPR Papua sarankan Dinkes gencar sosialisasikan manfaat vaksin COVID-19

Waromi meminta Kementerian Kesehatan RI dan Organisasi Kesehatan Dunia  (WHO) menyosialisasikan secara jelas dan transparan manfaat dan risiko vaksinasi COVID-19. Sosialisasi itu harus sampai kepada masyarakat yang tinggal di kampung dan desa di Tanah Papua, khususnya di Kabupaten Kepulauan Yapen.

“[Harus ada sosialisasi] tentang kondisi kesehatan dari seseorang yang layak divaksin, kemudian efek atau gejala setelah vaksin. Jika [ada] gejala yang membahayakan kesehatan dan nyawa manusia, tindakan apa yang harus di lakukan. Yang terpenting, mereka yang mempunyai riwayat penyakit dan faktor usia untuk dipertimbangkan sebelum divaksin, sehingga tidak berakibat fatal,” kata Waromi.

Waromi juga meminta pemerintah transparan menjelaskan manfaat dan risiko setiap merek vaksin. Ia meminta merek vaksin yang membahayakan kesehatan tidak digunakan dalam vaksinasi COVID-19. “Kami minta agar vaksin dari negara lain, seperti vaksin Moderna dari Amerika Serikat yang sekarang banyak digunakan Pasifik,” kata Waromi. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Related posts