Dikhawatirkan, pembunuhan ternak pada program restocking Vanuatu

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Port Vila, JUBI – Kementerian Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perikanan dan Bio-keamanan (Ministry of Agriculture, Livestock, Forestry, Fisheries and Bio-security, MALFFB) khawatir beberapa oknum petani yang terlibat program pemerintah untuk meningkatkan kembali jumlah ternak di provinsi Malampa, Penama dan Torba, telah membunuh ternak yang mereka terima dari program ini.

Program peningkatan jumlah ternak dimulai tahun 2016 dengan tujuan membantu kelompok peternak kecil mencapai tujuan pemerintah nasional agar jumlah ternak di negara tersebut dapat mencapai 500.000 ekor pada tahun 2025 dari jumlah ternak yang sekarang hanya ada 250.000 ekor.

Menurut Staf media Departemen Peternakan, Alain Simeon, Pulau Pentakosta memiliki jumlah tertinggi pembunuhan ternak sebesar 17 ekor, sementara di Maewo terjadi sembilan kasus dan begitu juga di Pulau Gaua di Provinsi Torba. Insiden yang sama juga dilaporkan terjadi di Pulau Ambrym di Provinsi Malampa.

Ternak tersebut disembelih untuk keuntungan finansial ataupun kewajiban adat.

Simeon mengatakan bahwa tahun depan kelompok petani akan menerima ternak gratis di tahap berikut program ini dan menyarankan mereka yang dipanggil untuk membayar denda mereka sebelum bulan November, “jika mereka tidak membayar denda maka pulau mereka tidak akan terdaftar lagi sebagai prioritas untuk tahap program berikutnya.”

“Namun ada juga kabar baik," katanya. “Di Maewo, seekor sapi milik satu petani yang ikut dalam program restocking telah menghasilkan 17 anak sapi, dan beberapa sapi lainnya sedang bunting.”

Petugas Peternakan Senior untuk daerah utara PNG, Stevenson Boe, mendorong para petani untuk terus mendukung program pemerintah untuk restockingternak dan memperingatkan agar tidak mengabaikan peraturan karena jika mereka melanggar larangan membunuh ternak, mereka akan disanksi denda yang mahal.(Elisabeth C. Giay)

Related posts