Dikecam Raja, Parlemen Tonga hentikan siaran langsung parlemen

Raja Tonga, Tupou VI. - RNZ Pacific/ Indira Stewart

Papua No.1 News Portal | Jubi

Nuku’alofa, Jubi – Dalam sebuah pidato yang, menurut banyak pihak, belum pernah terjadi sebelumnya, dan bersejarah, Raja Tonga telah mengecam anggota-anggota parlemen negara itu karena gagal menangani masalah-masalah paling mendesak di Tonga.

“Sangat tidak memuaskan melihat parlemen ini tidak melakukan upaya apa pun setelah membuat janji dan tanggapan dalam upacara pembukaan parlemen setiap tahunnya,” kecam Raja Tupou VI, menurut terjemahan pidatonya ke bahasa Inggris pada pembukaan parlemen di Nuku’alofa awal bulan ini.

Read More

“Setiap tahun, tujuan kami difokuskan pada tiga landasan, mereka adalah kesehatan, pendidikan, dan perekonomian negara yang baik, tetapi setiap tahun selalu tanggapannya sama, tanpa ada usaha-usaha khusus yang dilakukan”.

Wartawan senior, Kalafi Moala, menyebut pidato ini sebagai sebuah intervensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Ini sangat penting dan, sebenarnya, cukup bersejarah karena tidak ada raja sebelumnya, sejak tahun 1960-an, yang pernah berbicara di hadapan parlemen seperti yang dia lakukan,” tutur Moala.

Menurut kebiasaan, parlemen akan secara resmi menanggapi pidato Raja, tetapi tahun ini, para MP memilih untuk menangguhkan siaran langsung debat mereka melalui radio.

Langkah tersebut langsung dikritik oleh beberapa pengamat sebagai tindakan yang tidak demokratis, tetapi Juru Bicara Parlemen Tonga, Lord Fakafanua, menyatakan bahwa itu adalah hal yang normal.

“Ini adalah proses yang cukup biasa,” ungkapnya kepada Pacific Beat. “Dalam adat Tonga, Yang Mulia Raja harus menjadi pihak pertama yang membacanya [tanggapan dari parlemen] sebelum ada orang lain yang bisa mendengarnya, jadi pada dasarnya itulah alasan mengapa siaran langsung itu dihentikan”.

Tetapi Kalafi Moala tidak setuju, menekankan “bagi mereka, untuk sepenuhnya mengambil hak orang-orang untuk mendengarkan apa yang terjadi di parlemen, itu tidak boleh terjadi”. (Pacific Beat)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Related posts