Papua No.1 News Portal | Jubi
Jakarta, Jubi – Ribuan warga Israel menggelar aksi demsontrasi di sejumlah kota besar, termasuk Yerusalem dan Tel Aviv. Mereka menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mundur dari jabatannya karena dianggap tidak bisa menangani pandemi covid-19 dengan baik.
Massa beraksi sambil mengungkit dakwaan terhadap Netanyahu pada Januari lalu terkait penyuapan, penipuan dan pelanggaran kepercayaan dalam tiga kasus. Ia menyangkal semua tuduhan tersebut.
“Kami muak dengan koruptor,” tulis beberapa poster yang dibawa massa. “Di mana moral? Di mana nilainya,” tulis poster lainnya.
Baca juga : Netanyahu dan Gantz gagal bersepakat
Datangi kawasan Al-Khalil, ini janji Netanyahu ke warga Yahudi
Guterres desak Israel batalkan rencana aneksasi Palestina
Selain itu, massa aksi juga mengecam undang-undang yang memberikan pemerintah kekuatan khusus untuk memerangi penyebaran virus hingga akhir 2021.
Tercatat, dampak ekonomi dari pandemi yang dirasakan Israel cukup signifikan. Salah satunya angka pengangguran yang melonjak dari 3,4 persen pada Februari menjadi 27 persen pada April, dan turun menjadi 23,5 persen pada Mei.
Kasus infeksi virus corona di Israel sendiri sudah mencapai 60.496 kasus, sekitar 455 kasus di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Pembatasan yang dilakukan untuk menekan kasus ini pun berpengaruh pada kegiatan masyarakat.
Pembatasan tempat hiburan seperti bar, klub malam sampai pusat kebugaran kembali ditetapkan pemerintah ketika kasus baru di Israel mencapai lebih dari 1.000 orang dalam beberapa pekan terakhir.
Pemerintah dinilai belum banyak turun tangan membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Buntutnya sejumlah unjuk rasa digelar dalam beberapa pekan terakhir menuntut penanganan pemerintah. Dalam beberapa kasus, polisi bahkan harus menyemprot demonstran dengan meriam air dan melukai sejumlah massa aksi. (*)
CNN Indonesia
Editor : Edi Faisol
