Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
Jayapura, Jubi – Tokoh perempuan suku Kamoro, suku di Mimika yang terkena dampak limbah PT Freeport Indonesia (PTFI), Mathea Mamoyao mengatakan, dana satu persen yang diberikan PT Freeport kepada suku di sekitar area tembang, tak menjamin keberlangsungan masa depan suku itu.
Sekretaris komisi bidang pemerintahan, politik, hukum dan HAM DPR Papua itu mengatakan, yang diinginkan ada jaminan akan keberlangsungan hidup generasi suku Kamoro pada masa mendatang.
"Saya sendiri tidak tahu apakah kompensasi ini masih ada atau seperti apa. Saya tidak ingin dana itu hanya dinikmati oknum tertentu, sedangkan masyarakat kami hidup di bawah kemiskinan," kata Mathea Mamoyao kepada Jubi, Rabu (18/7/2018).
Menurutnya, yang diinginkan ada jaminan jelas akan keberlangsungkan generasi masa depan suku Kamoro. Namun kenyataannya, hal itu masih jauh dari harapan. Kondisi pendidikan dan kesehatan di wilayah suku Kamoro masih buruk.
"Selama ini saya terus bicara, karena sebagai anak suku Kamoro, saya tak ingin generasi suku saya tak dapat bertahan hidup pada masa-masa mendatang," ujarnya.
Sementara, pengurus Dewan Adat Meepago, John NR Gobai mengatakan, kini masyarakat adat pemilik hak ulayat area penambangan PT Freepot Indonesia, menagih janji pemerintah Indonesia mengenai perundingan antara Freeport, Jakarta dan pemilik hak ulayat.
Pihaknya minta Jakarta penuhi janji pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan yang sepakat dengan permintaan masyarakat adat dalam pertemuan, 4 September 2017 silam.
"Ketika itu, Jonan sepakat dengan permintaan masyarakat adat Suku Amungme saat itu, yang meminta perusahaan asal Amerika Serikat itu mengganti dana tanggung jawab sosial korporasi (Corporate Social Responsibility/CSR) yang diterima satu persen itu ke dalam bentuk bagi hasil yang nilainya lebih besar," kata Gobai.
"Nilai pasti dana satu persen itu benar dari hasil perusahaan atau bukan, yang diterima tiap tahun 500 miliar atau hingga 1 triliun lebih baik untuk kesehatan dan pendidikan," ujarnya lagi.(*)
