Cina laporkan temuan pasien flu burung, meski sudah stabil

papua
Ilustrasi pemeriksaaan medis di laboratorium - Pexels.com.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Kasus infeksi pertama varian virus flu burung H10N3 pada manusia dilaporkan terjadi di Cina. Pasien itu menimpa seorang pria berusia 41 tahun asal Provinsi Jiangsu, Cina, yang kemudian dilarikan ke rumah sakit karena infeksi tersebut pada 28 April lalu.

Read More

“Kondisinya kini sudah stabil,” kata Komisi Kesehatan Nasional Cina, Rabu (2/6/2021) kemarin.

Baca juga :Industri unggas di Eropa terancam virus flu burung 

Jerman laporkan temuan flu burung H5N8 di peternakan unggas 

Flu burung kembali muncul di Inggris

Hingga kini, komisi menambahkan kasus itu satu-satunya yang ditemukan. Sedangkan risiko penularan dan penyebaran virus yang lebih luas pada manusia diyakini rendah.

Flu burung disebabkan virus influenza yang menyebar di antara hewan unggas. Virusnya terdiri dari banyak jenis yang mudah sekali menular di antara hewan itu tapi jarang yang bisa melompat dan menjangkiti manusia.

Gejala infeksi berupa flu biasa yakni demam, batuk, nyeri otot, radang tenggorokan. Tapi mungkin juga untuk berkembang menjadi penyakit pernapasan yang serius. Subtipe virusnya yang H5N1 dan H7N9 pernah menyebabkan kematian hingga ratusan orang sejak kasusnya pertama dilaporkan pada 1997.

John McCauley dari Francis Crick Institute di London, Inggris, mengatakan kebanyakan infeksi pada manusia dialami oleh mereka yang kontak sangat dekat dengan unggas yang terinfeksi. “Paparan langsung saat sedang memegang atau menyembelih. Tapi begitu unggas sudah dimasak, ancamannya menjadi sangat rendah,” kata John McCauley.

Nicole Robb dari University of Warwick, Inggris, juga mengatakan kalau kebanyakan virus flu burung tak mudah untuk ditularkan di antara manusia. Virus-virus itu, kata dia, telah beradaptasi untuk bisa menyebar dengan mudah di antara unggas.

“Kabar baiknya adalah H10N3 ini adalah virus flu burung subtipe low pathogenic yang artinya menyebabkan sedikit gejala saja pada unggas dan juga sangat jarang menyebar menyebabkan penyakit serius pada manusia,” kata Nicole.

Nicole menyebut virus flu burung dari kelompok H5 dan H7 jauh lebih berbahaya karena bisa berkembang menjadi galur yang sangat pathogenic. “Bisa menyebabkan kematian pada unggas dan menyebabkan penyakit serius pada manusia yang terinfeksi,”. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Related posts