Epidemi Covid-19 telah menimbulkan kekhawatiran bahwa 850 ribu penduduk asli Brazil yang berisiko terdampak keras.
Papua No. 1 News Portal | Jubi
Brasilia, Jubi – Negara Brazil berusaha melindungi masyarakat adat dari penularan wabah Covid-19. Langah itu dilakukan di antaranya melarang orang yang bukan warga masyarakat adat memasuki wilayah adat.
“Untuk menghentikan penyebaran virus corona di desa mereka dan akan mendistribusikan masker, sarung tangan, alat tes dan makanan ke komunitas mereka,” kata para pejabat setempat, Senin, (14/4/2020).
Baca juga : Hadapi corona, warga kawasan kumuh di Brazil sewa dokter sendiri
Perangi corona, klub sepak bola Brazil tawarkan stadion untuk rumah sakit
Ribuan Napi di Brazil kabur sebelum penutupan wilayah akibat corona
Epidemi Covid-19 telah menimbulkan kekhawatiran bahwa 850 ribu penduduk asli Brazil yang berisiko terdampak keras. Mereka tidak memiliki pertahanan terhadap penyakit yang dibawa dari luar dan banyak yang tinggal di rumah-rumah komunal dengan jarak sosial tidak mungkin diterapkan.
Sejauh ini, otoritas kesehatan melaporkan tiga kematian penduduk asli, termasuk seorang pemuda berusia 15 tahun dari wilayah yang luas di mana 25 ribbu suku Yanomami tinggal di perbatasan dengan Venezuela.
Menteri Perempuan, Keluarga dan Hak Asasi Manusia, Damares Alves, mengatakan pemerintah akan menghabiskan 4,7 miliar reais atau $ 904 juta hingga bulan Juni untuk melindungi komunitas tradisional dari virus corona baru. Mereka juga mencakup kelompok gipsi dan keturunan budak yang melarikan diri yang tinggal di daerah terpencil.
Pemerintah akan mendistribusikan 1 juta masker pelindung dan sarung tangan ditambah 6 ribu alat tes kepada suku asli dan menyediakan 300 ribu keranjang makanan sehingga mereka tidak harus meninggalkan tanah mereka untuk mendapatkan makanan.
“Pemerintah telah menangguhkan masuknya orang ke tanah adat,” kata Alves, menyetujui permintaan utama dari para pemimpin suku untuk mencegah penularan.
Menteri Kehakiman Sergio Moro, yang bertanggung jawab pada badan urusan adat Funai, mengatakan aparat penegak hukum setempat akan digunakan untuk membantu membangun penghalang untuk melindungi dan mengisolasi komunitas tradisional.
Dalam ketiga kasus kematian penduduk asli, penularan datang dari luar desa kesukuan, kata Moro, seraya menambahkan bahwa Polisi Federal di bawah komandonya bertindak untuk menghentikan para penambang ilegal dan perambah lainnya yang memasuki wilayah adat.
“Ribuan penambang emas liar saat ini berada di dalam reservasi Yanomami,” kata para pejabat.
Selama berabad-abad, penyakit mulai dari flu sederhana hingga cacar dan campak yang dibawa oleh orang Eropa telah menghancurkan masyarakat adat di Amazon, suatu bahaya yang terus mengancam suku-suku yang wilayahnya telah dirambah oleh penambang, penebang dan pemburu. (*)
Editor : Edi Faisol
