Papua No.1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Badan Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Kementerian Pertanian (Kementan), di Papua menyatakan, penting melibatkan masyarakat adat dalam menjaga keberlangsungan tanaman sagu di Papua.
Kepala BPTP Papua, Martina Sri Lestari mengatakan kewajiban para pihak menjaga keberlangsungan hutan sagu di Papua. Akan tetapi masyarakat adat mesti dilibatkan.
Pernyataan itu dikatakan Marthina Sri Lestari dalam diskusi penyelamatan hutan sagu di Papua, Senin (11/10/2021).
Diskusi berlangsung di Kantor BPTP Papua, Jalan Yahim, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.
“Kewajiban kita untuk menjaga hutan sagu. Akan tetapi, kita mesti melibatkan masyarakat terutama pemilik ulayat kawasan hutan sagu dan masyarakat adat,” kata Marthina Sri Lestari.
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir BPTP Papua tidak banyak melakukan penelitian. Akan tetapi, instansi itu ditugaskan mengidentifikasi sagu unggul di Kabupaten Jayapura.
“Ada juga program penataan kawasan tanaman sagu. Anggarannya dari Kementan, tapi masuknya ke di Dinas Pertanian Provinsi Papua. Kami hanya Mendampingi kegiatan penataan kawasan tanaman sagu di Kabupaten Jayapura,” ujarnya.
Katanya, dalam pelaksanaan program penataan kawasan sagu, yang menentukan lokasi adalah masyarakat adat dan kepala kampung. Sebab, mereka lebih tahu kawasan yang dapat difungsikan.
“Di Kab Jayapura, kawasan hutan sagu cukup luas. Kalau tidak dijaga akan hilang. Kalau ditebang dan tidak ditanam kembali. Satu pohon ditebang, 10 pohon harus ditanam,” ucapnya.
Peneliti BPTP Papua, Albert Soplanit mengatakan, sebelum masa pandemi korona atau pada 2019 silam, pihaknya juga melakukan pembibitan tanaman sagu secara massal di Kabupaten Jayapura.
“Ini bertujuan untuk menggantikan tanaman sagu, yang sudah mulai tua,” kata Albert.
Katanya, dalam pelaksanaan program pembibitan, BPTP Papua melibatkan masyarakat adat. Sebab merekalah yang memiliki lahan.
“Kami tidak bisa kerja sendiri. Mesti kerja sama dengan masyarakat adat, karena mereka yang punya lahan, kami hanya punya teknologi,” ujarnya.
Ia mengatakan, program pembibitan tanaman sagu itu mestinya berlanjut pada 2020 dan 2021. Akan tetapi, anggaran program itu mengalami refocusing pascapandemi Covid-19. (*)
Editor: Edho Sinaga
