Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,
Jayapura, Jubi – Bank Indonesia Perwakilan Papua memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di Papua tahun 2017 relatif moderat dan berada pada kisaran 6,1- 6,5 persen dengan kecenderungan bias atas.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Joko Supratikto mengatakan, hal itu sangat dipengaruhi produksi tambang yang diasumsikan relatif normal sehingga selama periode 2016, tumbuh positif sebesar 20.65 persen (yoy) di triwulan III tahun 2016.
"Pada triwulan III 2016 ekonomi Papua tumbuh positif 20,65 persen, perekonomian ini tak terlepas dari pengaruh sektor tambang tumbuh 42,25 persen," katanya pada sambutan acara pertemuan tahunan Bank Indonesia bersama perbankan dan muspida Papua di salah satu hotel di Jayapura, Rabu (14/12/2016).
Menurut Joko, pertumbuhan ini dipersentasekan sebesar 9,2 hingga 9,7 persen yang paling menonjol pada sektor pertambangan di Papua.
Sedangkan Inflasi di Papua pada November mencapai level 3,73 persen (yoy), dimana angka ini yang masih relatif terkendali minimalnya tekanan inflasi komponen volatile foods dan administered prices.
"Kami perkirakan inflasi Papua di kisaran 3,5 – 4,0 persen, pada 2017 diperkirakan pada interval 4,0 – 4,5 persen dengan kecenderungan bias ke atas," ujarnya.
Menurutnya, untuk pengendalian inflasi diperlukan peran seluruh pihak di daerah. Saat ini telah terbentuk 13 Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), satu di provinsi dan 12 TPID tingkat kabupaten-kota.
"Realisasi inflasi akan lebih rendah jika TPID dapat menjalankan peran secara optimal dalam memitigasi risiko inflasi," tuturnya.
Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, tanpa adanya kerja sama dan sinergitas seluruh stakeholder, perkonomian yang kuat dan stabil serta inflasi yang terkendali tidak bisa tewujud.
"Pertumbuhan ekonomi Papua pada triwulan 20, 65 persen ini merupakan hasil kerja keras dan sinergitas dari semua pihak," ujarnya. (*)
