Balai Arkeologi Papua raih penelitian terbaik nasional

Menhir di Situs Yomokho, Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua - Antara/Hari Suroto.
Menhir di Situs Yomokho, Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura – Antara/Hari Suroto.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Balai Arkeologi Papua meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penelitian arkeologi mereka mendapat predikat terbaik nasional.

Read More

“Ada 118 penelitian dari 10 balai arkeologi, dan satu Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 2019. Sebanyak 6 penelitian arkeologi terpilih sebagai yang terbaik,” kata Arkeolog Balai Arkeologi Papua Hari Suroto, Rabu (28/11/2019).

Satu dari enam penelitian terbaik tersebut dihasilkan oleh Tim Peneliti Balai Arkeologi Papua. Penelitian mereka mengindetifikasi jejak hunian pada awal prasejarah di Kawasan Danau Sentani bagian barat. Penelitian selama sebulan pada Oktober lalu tersebut menemukan Situs Yomokho.

Situs Yomokho merupakan komplek hunian pada masa prasejarah di Papua. Lokasinya di lereng bukit di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura.

“Tinggalan arkeologi yang ditemukan berupa pecahan gerabah, fragmen kapak batu, fragmen batu alat tokok sagu, obsidian, serpih, dan cangkang siput danau. Kemudian, cangkang moluska laut, gigi babi, tulang, menhir, papan batu, dan struktur jalan batu,” jelas Hari.

Penelitian arkeologi tersebut diharapkan turut mendukung pengusulan Danau Sentani sebagai destinasi wisata unggulan nasional. Pihak Balai Arkeologi Papua juga berencana melanjutkan penelitian mereka di kawasam tersebut.

“Penelitian akan dilanjutkan pada tahun depan.  Itu untuk mendukung interpretasi lebih luas mengenai hunian prasejarah di Kawasan Danau Sentani,” kata Kepala Balai Arkeologi Papua Gusti Made Sudarmika.

Tokoh Adat Kampung Dondai Daud Wally mengapresiasi penelitian Balai Arkeologi Papua yang mengungkap kehidupan nenek moyang mereka. “Saya berharap situs Yomokho semakin dikenal luas, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura mengembangkannya sebagai destinasi wisata.” (*)

 

Editor: Aries Munandar

Related posts