Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
Sentani, Jubi – Tutari merupakan situs megalitik yang terletak di Kampung Doyo Lama Distrik Waibhu Kabupaten Jayapura. Situs ini berada di bukit dengan ketinggian antara 150 hingga 200 meter di atas permukaan laut (Dpl). Di situs tersebut terdapat sejumlah peninggalan dari masa megalitik.
Badan Arkeologi Papua melihat tempat-tempat bersejarah ini sangat penting untuk diperkenalkan kepada siswa-siswi baik SD, SMP, dan SMA. Untuk memperkenalkan Situs Megalitik Tutari, digelarlah sejumlah kegiatan bagi para siswa di situs tersebut.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal lebih dekat Situs Megalitik Tutari. Selain itu juga untuk meningkatkan rasa ingin tahu tentang Situs Tutari dan menumbuhkan motivasi pada siswa untuk menghargai peninggalan arkeologi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” jelas Kepala Balai Arkeologi Papua, Gusti Made Sudarmika, di Kampung Doyo Lama, tempat dilaksanakan kegiatan tersebut, Rabu (26/9/2018).
Dijelaskan, dari kunjungan seperti ini para siswa diharapkan mampu mensosialisasikan kepada rekan dan teman seumuran mereka yang tidak mendapat kesempatan seperti ini.
Gusti Made mengatakan sudah ada informasi awal yang disampaikan terkait keberadaan situs Tutari. Melalui kegiatan dan lomba yang dilakukan saat ini juga memberikan dampak positif bagi anak-anak didaik untuk terus menggali apa yang tekah terjadi di masa lampau.
“Ada kegiatan dan lomba seperti menggambar burung garuda dan peta NKRI, lomba merangkai gerabah, lomba ceritera rakyat, dan mob atau stand up comedy ala Papua. Dari rangkaian kegiatan dan lomba ini yang akan memacu anak-anak didik kita untuk terus menggali dan mengetahui apa yang terjadi masa lalu,” ujarnya.
Seorang siswa SMP N 6 Jayapura, Marthinus Marthen Ronsumbre, mengaku sangat terkesan dengan situs megalitik yang baru pertama kali dikunjunginya.
Menurut siswa kelas IX ini, Situs Megalitik Tutari yang dikunjungi ini ada berbagai jenis dan motif yang berada di atas batu.
“Mulai dari gambar ikan, ular, kura-kura, dan ada batu yang berbentuk kura-kura serta motif-motif ukiran dari Sentani. Kegiatan seperti ini sangat penting bagi kami anak-anak Papua, secara khusus asli Jayapura, agar dapat mengetahui ceritera–ceritera atau kejadian yang pernah terjadi di masa lampau,” katanya.
Hal senada juga dikatakan Ruben, siswa lainnya, yang terlibat dalam lomba merangkai gerabah.
“Benda- benda purbakala yang masih ada dan sering ditemui seperti gerabah. Bentuk awalnya memang tidak seperti saat ini yang sudah tinggal keping-keping. Kami diminta untuk merangkainya dari kepingan-kepingan tersebut hingga menjadi sebuah gerabah yang utuh. Dari bentuk yang telah dirangkai itu yang akan diketahui bentuk fisik gerabah yang utuh seperti apa sebelum pecah berkeping-keping dan tinggal dalam waktu yang cukup lama,” ungkapnya. (*)
