Asrama menanti penghuni perdana

Kondisi Asrama Putra Marind di Kota Merauke – Jubi/Frans L Kobun
Kondisi Asrama Putra Marind di Kota Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

RUMPUT liar menjulang, menutupi sebagian tinggi bangunan.  Suasana di dalam gedung pun lengang lantaran tidak berpenghuni. Hanya ada seorang sebagai penjaga lingkungan.

Read More

Kondisi beberapa bagian bangunan juga tidak terawat padahal pengerjaannya baru saja rampung sekitar setahun lalu. Biaya pembangunannya pun tidak sedikit. Pemerintah Kabupaten Merauke  merogoh sekitar Rp 7 miliar dari APBD.

Bangunan tersebut merupakan Gedung Asrama Putra Marind (Aspuma). Fasilitas ini berdiri di Kelurahan Kelapa Lima, Distrik Merauke.

“Beberapa bagian bangunan rusak, dan belum diperbaiki,” kata Semi kepada Jubi, Kamis (7/2/2019).

Semi bersama dua rekannya dipercayai sebagai penjaga lingkungan asrama yang tidak berpenghuni tersebut. Mereka belum genap dua bulan bertugas. Semi dan kawan-kawan berkeinginan membabat rumput di halaman asrama agar terlihat bersih dan asri. Ketiadaan mesin pemangkas membuat mereka mengurungkan niat.

Aspuma dibangun di masa Bupati Romanus Mbaraka. Tujuannya, memenuhi kebutuhan pemondokan bagi pelajar dari Marind. Marind merupakan etnik pemilik ulayat di seantero Kota Merauke. Kebanyakan anak-anak mereka kesulitan mendapat tempat tinggal saat melanjutkan sekolah ke Merauke.

Pencarian lahan dimulai pada 2014. Sebidang tanah milik warga di Kelurahan Kelapa Lima, akhirnya ditetapkan sebagai lokasi pendirian asrama. Pembangunan pun dilakukan secara bertahap dari dana APBD Kabupaten Merauke.

Jago Bukit menjadi perancang sekaligus mengepalai tim pembangunan Aspuma. Dia mengatakan asrama tersebut khusus menampung pelajar Marind yang berprestasi. Mereka selanjutnya bakal diorbitkan berkuliah di berbagai perguruan tinggi bergengsi di Indonesia.

“Ini asrama unggulan sehingga tidak sembarangan menerima tamatan SMP. Mereka begitu selesai SMA diharapkan melanjutkan studi ke perguruan tinggi populer,” kata Jago.

Terhambat suksesi

Pembangunan Aspuma sempat tersendat seiring suksesi kepala daerah di Kabupaten Merauke pada 2016. Pembangunannya harus menyesuaikan dengan kebijakan kepala daerah baru. Beberapa kebutuhan pembangunan tidak bisa direalisasikan sekaligus, tetapi bertahap.

“Pembangunannya berlarut-larut sehingga baru diselesaikan pada 2018. Bangunan fisik saat ini sudah 90% (rampung), hanya tersisa penataan taman dan pembabatan rumput,” jelas Jago.

Aspuma dirancang mampu menampung 80 siswa. Fasilitas listriknya juga sudah tersedia. Begitu pula perabotan, tetapi masih ditumpangkan kepada Yayasan Santo Antonius (Yasanto). Perabotan siap diangkut ketika seluruh pengerjaan asrama dinyatakan rampung.

Jago memastikan Aspuma mulai dioperasikan pada tahun ajaran ini, dengan merekrut sebanyak 40 siswa sebagai penghuni asrama.

“Kapasitas asrama memang sebanyak 80 orang, tetapi penerimaannya bertahap. Kami akan bekerja sama dengan kepala sekolah dan kepala distrik untuk merekomendasikan sekaligus menyeleksi calon penghuni asrama.”

Kebutuhan sehari-hari penghuni asrama ditanggung pihak pengelola. Mereka hanya tinggal belajar dan bersekolah. Armada angkutan pun disiapkan untuk mengantar-jemput ke sekolah. Pihak pengelola juga menyiapkan les privat dan berbagai kegiatan bagi penghuni asrama.

“Kami menyiapkan bapak (penanggung jawab) asrama, tukang masak, hingga satpam. Mudah-mudahan semua konsep bisa dijalankan sesuai dukungan anggaran,” kata Jago. (*)

Editor: Aries Munandar

Related posts