AS resmi sanksi Turki terkait pembelian pertahanan udara S-400 Rusia

Bendera Turki - Pexels.com.

Papua No.1 News Portal | Jubi,

Jakarta, Jubi Amerika Serikat akhirnya menjatuhkan sanksi terhadap Turki pada Senin, (14/12/2020) kemarin, atas pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. Sikap Turki yang menolak membatalkan pembelian itu membuat Amerika Serikat tidak punya pilihan lain.

Read More

Keputusan itu membuat hubungan kedua negara semakin rumit. Pemerintah Turki mengutuk sanksi tersebut dan mendesak Washington untuk merevisi keputusan yang disebutnya tidak adil.

“Kami meminta Amerika Serikat untuk merevisi sanksi yang tidak adil (dan) untuk kembali dari kesalahan besar ini secepat mungkin. Turki siap untuk menangani masalah ini melalui dialog dan diplomasi dengan cara yang sesuai dengan semangat aliansi,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Turki dikutip dari Reuters, Selasa, (15/12/2020).

Baca juga : Tangkis serangan Turki, militer Suriah akan dikerahkan

Israel menentang perjanjian batas maritim Turki-Libya

Ini kondisi Alepo jelang pertemuan Turki-Rusia

Menurut Turki, sanksi itu bakal berdampak negatif terhadap hubungan kedua negara. “Dan Turki akan membalas dengan cara dan waktu yang dianggap tepat,” kata kementerian itu menambahkan.

Sedangkan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat berharap dapat menemukan resolusi atas keputusan Turki membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia itu.

“Keputusan ini tidak memberi kami alternatif. Kami berharap pemerintah Turki akan bersedia untuk terlibat dengan kami dalam mencoba menemukan resolusi untuk ini,” kata Christopher Ford, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Keamanan dan Nonproliferasi Internasional.

Washington memberlakukan sanksi ini pada badan pengadaan dan pengembangan pertahanan Turki, ketuanya, dan tiga karyawan lainnya.

Amerika Serikat berdalih keputusan Turki untuk menggunakan S-400, yang diperoleh dari Moskow pada 2019, membuatnya tidak memiliki pilihan mengingat jet tempur F-35 dan pertahanan bersama lainnya akan rentan terhadap musuh NATO, Rusia. (*)

Editor : Edi Faisol

Related posts