Papua No. 1 News Portal | Jubi ,
Oleh: Hari Suroto
Zaman now memiliki arti masa kini atau zaman sekarang. Namun zaman now juga berarti berbeda dengan lazimnya.
Tugas seorang arkeolog adalah merekonstruksi kehidupan manusia masa lalu. Terus apakah arkeolog mengenal zaman now?
Ketika saya menanyakan ke mahasiswa antropologi Universitas Cenderawasih di kelas, menurut kalian apa sih arkeolog itu? Mereka jawab Indiana Jones. Ada yang jawab Tomb Raider.
Apakah Indiana Jones itu arkeolog "zaman old" dan Tomb Rider adalah arkeolog "zaman now"? Tentu saja tidak.
Jadi, arkeolog zaman now adalah arkeolog yang terbuka dengan teknologi dan perkembangan analisis terbaru dalam merekonstruksi masa lalu. Arkeolog zaman now harus paham CT scans, 3D scans, X-Ray analysis, DNA anaysis, Magnetic Resonance Imaging (MRI), Radiocarbon dating, serta ilmu bantu lainnya.
Yang jadi permasalahan di Indonesia adalah keterbatasan peralatan analisis di atas. Namun, di luar negeri, para arkeolog sudah melakukannya.
Selain itu para arkeolog Indonesia zaman now, harus menguasai salah satu bahasa asing, mengerti IT, harus mengikuti perkembangan ilmu arkeologi terbaru, dan hasil penelitian harus dipublikasikan dalam bentuk ilmiah populer.
Generasi zaman now adalah generasi yang bergantung pada gadget, mereka lebih suka membaca postingan artikel yang singkat, padat dengan bahasa yang mudah dipahami. Arkelog zaman now juga harus paham tentang hal itu, jadi hasil penelitian selain dipublikasikan dalam jurnal ilmiah juga hasus dipublikasikan sebagai artikel (ilmiah) populer.
Arkeolog dalam merekonstruksi kebudayaan masa lalu, salah satunya dengan menggunakan teknik eksperimental arkeologi. Eksperimental arkeologi merupakan data banding yang diperoleh dengan cara melakukan suatu perilaku tiruan yang mengacu pada masalah yang akan dipecahkan.
Kajian ini didasari penalaran induktif sehingga kedudukannya hanya bersifat memberikan contoh untuk interpretasi, menyajikan kemungkinan awal, atau menilai kelayakan hipotesis.
Di Papua, teknik eksperimental arkeologi pernah dilakukan oleh Coralie Girard dan Fanette Reyjasse, keduanya merupakan mahasiswa arkeologi Universitas Bordeaux, Prancis.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap motif hias yang tertera pada batu-batu megalitik Tutari dibuat dengan teknik gores. Namun, belum diketahui jenis alat yang digunakan untuk membuat goresan tersebut.
Maka di tempat yang berbeda, kedua mahasiswa Prancis tersebut melakukan uji coba membuat goresan pada batu gabro. Batu ini sejenis dengan batu yang menjadi media goresan motif Situs Megalitik Tutari.
Goresan dibuat dengan menggunakan logam, kapak batu, batu cycloop, dan batu gabro. Hasilnya menunjukkan bahwa goresan menggunakan batu cycloop memiliki persamaan dengan goresan yang ada di Tutari.
Jadi, diperkirakan pada masa prasejarah, motif hias yang tertera pada batu-batu Situs Megalitik Tutari dibuat dengan menggunakan batu cycloop. Batu cycloop memiliki tingkat kekerasan lebih tinggi daripada gabro.
Suatu pengalaman lucu terjadi dalam penelitian arkeologi tahun 2011 di situs Yomokho, Sentani, Kabupaten Jayapura. Pada waktu itu sedang dilakukan penggalian atau ekskavasi arkeologi.
Seusai menentukan letak kotak galian, dibuatlah layout kotak, penggambaran dan pendokumentasian. Tahap awal kotak digali sedalam 10 cm.
Penggalian pertama dilakukan oleh peneliti, agar tenaga lokal (tenlok), selain bisa melihat langsung teknik ekskavasi dalam arkeologi dan bisa melanjutkan penggalian selanjutnya.
Tiba-tiba ada salah satu tenlok yang baru datang langsung ambil sekop dan melakukan penggalian tidak jauh dari kotak ekskavasi. Menurutnya cara menggali yang dilakukan peneliti lambat dan terlalu lama karena menggali tanah pelan-pelan dengan cetok dan kuas.
Melihat hal tersebut, tim peneliti menjelaskan ke tenlok yang baru datang tersebut, mengenai definisi ekskavasi dan cara kerja dalam ekskavasi arkeologi.
Dalam buku "Metode Penelitian Arkeologi"dijelaskan bahwa ekskavasi adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui penggalian tanah yang sistematik untuk menemukan suatu atau himpunan tinggalan arkeologi dalam situasi in situ (tempat aslinya).
Bahasa mudahnya adalah arkeolog merekonstruksi masa lalu berdasarkan data yang ditemukan dalam kotak galian. Jadi, tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru menggunakan peralatan penggalian macam sekop.
Dengan ekskavasi diharapkan akan diperoleh keterangan mengenai bentuk temuan, hubungan antartemuan, hubungan stratigrafis, hubungan kronologis, tingkah laku manusia pendukungnya serta aktivitas, alam, dan manusia setelah temuan terdepositkan.
Pengantar Arkeologi diajarkan di Program Studi Antropologi Fisip Uncen sebanyak 3 SKS (Satuan Kredit Semester). Mata kuliah ini bertujuan mengenalkan tentang arkeologi ke mahasiswa Antropologi.
Kantor dinas kebudayaan di kabupaten, kota, dan provinsi belum ada arkeolog orang asli Papua (OAP).
Selain itu, di Papua dan Papua Barat belum ada universitas yang mempunyai jurusan Arkeologi. Antropologi baru ada di Uncen dan Univeritas Papua (Unipa) Manokwari.
Padahal di setiap dinas kabupaten dan kota ada seksi cagar budaya, tetapi selama ini diisi oleh SDM yang berlatar pendidikan tidak sesuai (jurusan Arkeologi).
Pasalnya, setiap kabupaten dan kota punya potensi situs arkeologi dan cagar budaya yang tinggi
Bidang kerja arkeologi meliputi akademisi (dosen), peneliti, praktisi (pelestari cagar budaya), pamong budaya, konservator cagar budaya, pemerhati arkeologi, dan anggota tim ahli cagar budaya.
“Dosen arkeologi (OAP) belum ada, peneliti di Balai Arkeologi Papua (ada OAP tapi mereka lulusan antropologi Uncen), pamong budaya (OAP lulusan arkeologi belum ada), pelestari cagar budaya (OAP lulusan arkeologi tidak ada, belum ada OAP yang isi bidang ini), konservator (OAP ada di museum negeri Papua tetapi dia lulusan SMA saja)," ujarnya.
Jurusan Arkeologi bisa dibuka di salah satu universitas di Papua maupun Papua Barat, Uncen, Universitas Musamus Merauke, atau Unipa Manokwari.
Untuk membuka jurusan Arkeologi, universitas-universitas di Papua bisa bekerja sama dengan universitas yang ada jurusan Arkeologi, seperti UI, UGM, Universitas Udayana, dan Universitas Hasanuddin. Kerja sama ini dalam hal penyediaan SDM (dosen atau pengajar)
Kondisi di Papua jauh beda dengan Papua Nugini, yang sudah banyak arkeolog asli Papua Nugini, bahkan di Universitas Papua Nugini sudah ada program studi Arkeologi.
Universitas di Papua bisa studi banding ke Program Studi Arkeologi di Universitas Papua Nugini, Port Moresby. (*)
Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Papua
