Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Dewan Adat Papua mengingatkan aparat keamanan, terutama yang berasal dari daerah lain dan diperbantukan di Papua, agar tidak selalu menstigma negatif orang asli Papua (OAP).
Pernyataan itu dikatakan Sekretaris II Dewan Adat Papua, John NR Gobai melalui panggilan teleponnya kepada Jubi, Rabu (14/10/2020).
“Saya harap aparat kemanan dapat memahami kondisi psikologis masyarakat. Saya juga meminta aparat tidak menstigma negatif masyarakat, akibat doktrin yang keliru terhadap orang asli Papua,” kata Gobai.
Ia mengatakan, selama ini pengiriman pasukan yang diperbantukan ke Papua, terus terjadi. Para pimpinan aparat keamanan di Papua selalu menyatakan itu merupakan kewenangan pemerintah pusat.
Menurutnya, selama ini masyarakat Papua takut dan trauma ketika melihat aparat keamanan, apalagi dengan senjata lengkap. Untuk itu, ke depan diharapkan pemerintah pusat terlebih dahulu berkordinasi dengan pemerintah daerah sebelum pengiriman pasukan keamanan ke Papua.
Katanya, dengan begitu pemerintah daerah dan para pihak terkait di sana terlebih dahulu dapat melakukan berbagai kajian. Jika mereka menganggap daerahnya aman, tidak perlu mengirim perbantuan pasukan keamanan.
“Pasukan yang dikirim untuk diperbantukan ke Papua, juga mesti di bawah kendali pemerintah dan pimpinan aparat keamanan di daerah. Ini mesti juga diatur dalam regulasi nasional,” ujarnya.
Sementara itu, anggota komisi bidang keamanan, hukum dan HAM DPR Papua, Laurenzus Kadepa mengatakan hingga kini pemerintah masih mengedepankan pendekatan keamanan dalam menyelesaikan setiap masalah di Papua.
“Sampai kapan pun Papua tak akan aman selama pendekatan keamananan atau pendekatan militer diutamakan. Orang Papua memiliki histori trauma terhadap militer,” kata Kadepa.
Katanya, hingga kini pengiriman pasukan dari luar Papua terus dilakukan. Cara ini dianggap justru akan menambah masalah baru.
“Negara sudah tahu itu. Tapi kenapa negara membiarkan kondisi ini dan terus melakukan pendekatan keamanan,” ucapnya. (*)
Editor: Edho Sinaga
