Papua No. 1 News Portal | Jubi
Oleh Jonathan Pryke
Industri bantuan luar negeri itu sangat ruwet. Puluhan donor bilateral, ratusan badan multilateral, dan ribuan organisasi non-pemerintah berserakan di lanskap pembangunan di setiap penjuru dunia.
Dalam jargon dunia bantuan pembangunan, hal ini dikenal sebagai ‘fragmentation’. Berbagai tulisan mengenai keefektivan dari bantuan konservatif menunjukkan bahwa, jika memungkinkan, donor bantuan harus berusaha untuk menghindari fragmentation – proyek bantuan besar-besaran dengan sedikit jumlah donor yang bekerja dalam kemitraan untuk pembiayaannya, dan sebagainya. Secara teori, positifnya, hal ini akan membantu mengurangi beban dari negara yang dibantu, mencegah pendanaan yang tumpang tindih, dan mempercepat seluruh proses pembangunan.
Semua ini tampaknya masuk akal. Tetapi bisakah konsentrasi bantuan kepada suatu negara yang terlalu tinggi berubah menjadi hal yang buruk? Bisakah ia melumpuhkan kompetisi dan persaingan? Bisakah hal itu menghasilkan terlalu banyak tekanan atas satu mitra bilateral, dan memberinya mereka terlalu banyak kekuatan dalam hubungan itu?
Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang penting di Pasifik, khususnya dengan tetangga terdekat Australia, Papua Nugini. Papua Nugini mencolok secara global dalam hal ‘aid concentration’ atau donor concentration (keadaan dimana satu donor mendominasi lanskap bantuan asing negara tertentu dan tidak bekerja sama dengan mitra bantuan asing lainnya) dari mitra tertentu.
Ketika kita mengamati semua negara Pasifik yang duduk bersama 75 negara lainnya di peringkat paling bawah dalam Indeks Pembangunan Manusia, HDI (indeks yang mengukur tingkat pembangunan suatu negara, dan bagaimana penduduknya dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya – dimana Australia menempati peringkat ketiga), hanya 5 di antaranya yang memiliki donor ‘concentration’ di atas 50%.
Dari 78 negara ini (tiga negara Pasifik tidak masuk dalam 75 rangking paling bawah), rata-rata ‘aid concentration’ dari donor terbesar adalah 28,59%. PNG berada di urutan keempat, dengan 70,66% dari bantuan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) untuk PNG datang dari Australia (ketika Tiongkok dimasukkan, angka ini turun menjadi 58%).
Poin lainnya yang juga menonjol adalah, bahwa enam dari 10 negara dengan donor concentration tertinggi itu berada di Pasifik. Untuk banyak negara-negara kecil, terutama mereka yang memiliki hubungan perjanjian Compact of Free Association (COFA) dengan Amerika Serikat (di Kepulauan Pasifik ada Negara Federasi Mikronesia, Kepulauan Marshall, dan Palau), hal ini masuk akal. Kepulauan Solomon juga tampaknya masuk akal, mengingat peran penting Australia dalam Misi Bantuan Regional ke Kepulauan Solomon (RAMSI) untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban ke bangsa itu.
Bagi saya, PNG itu mencolok karena beberapa alasan.
Populasinya yang besar, berkisar antara 8-10 juta jiwa, menjadikannya sebanding dengan sejumlah negara di Afrika (Sub Sahara), dimana ratusan donor bekerja dan aktif setiap saatnya. Tantangan-tantangan pembangunan PNG, seperti yang diuraikan dalam Laporan Lowy Institute tahun lalu, juga sama tingkat kegentingannya, dengan PNG menduduki peringkat ke-153 dari 189 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia.
Angka donor concentration rata-rata untuk negara-negara yang rangkingnya di bawah PNG dalam indeks itu adalah 22,27%. Memang, bantuan yang didapatkan PNG per kapita lebih sedikit daripada yang lainnya – rata-rata bantuan per kapita dalam indeks ini adalah $ 83 per kapita dibandingkan dengan $ 64 per kapita di PNG – tetapi itu sama sekali tidak berarti mitra-mitranya kikir, dan Australia, pastinya, turut berkontribusi membayar kewajibannya.
Jadi mengapa bantuan untuk PNG begitu terkonsentrasi dengan bantuan dari Australia? Saya punya beberapa dugaan.
Yang pertama adalah kuatnya pengaruh sejarah bersama Australia dengan PNG. Sebagai negara bekas koloni dan tetangga terdekatnya, pemerintah Australia selalu berupaya untuk menjadi mitra pilihan utama PNG. Situasi ini telah berubah dalam beberapa tahun terakhir akibat Australia lebih aktif bekerja untuk melibatkan lebih banyak mitranya, yang memiliki kepentingan yang sama dengannya di kawasan Pasifik, untuk melawan investasi Tiongkok yang terus menjamur. Australia seringkali bisa berubah menjadi musuh terburuknya sendiri.
Penyebab lainnya adalah mungkin karena PNG, meskipun ukurannya relatif besar di seluruh kawasan Pasifik, belum menarik minat, dan karena jaraknya yang terlalu jauh banyak donor dan mendorong mereka untuk terlibat dengan lebih serius. Australia tidak perlu dihadapkan dengan tantangan jarak seperti negara-negara lainnya.
Bisa juga karena upaya PNG untuk melobi badan-badan bilateral dan multilateral lainnya, agar lebih banyak berinvestasi di negara ini tidak terlalu meyakinkan. Jaringan diplomatik pun cukup kecil, dimana hanya ada 13 negara anggota OECD dan G20 yang memiliki kedutaan besar di PNG.
Atau, mungkin juga, terus terang saja, menyalurkan program bantuan di PNG itu sulit. Tidak jarang program bantuan Australia ke PNG adalah salah satu yang kinerjanya paling buruk, yang sebenarnya mungkin bukan kesalahan PNG.
Mitra dan donor lainnya juga telah mengurangi upaya dan program bantuan mereka dalam beberapa tahun terakhir. Médecins Sans Frontières (Dokter Lintas Batas) menyelesaikan operasinya yang sudah berjalan selama sembilan tahun, dan berfokus pada isu KDRT dan pelecehan seksual di negara itu, pada 2016.
Peta Bantuan Pasifik dari Lowy Institute juga menggambarkan inkonsisten yang luar biasa besar (diluar nilai tukar mata uang asing) dalam kontribusi donor non-regional Pasifik ke PNG. Donor lainnya yang tidak terikat secara strategis, dan historis, dengan PNG seperti halnya Australia, mungkin mengamati bahwa lebih banyak capaian mereka akan berhasil jika mereka bekerja di tempat lain.
Apa pun alasannya, konsentrasi bantuan yang luar biasa dari Australia ke PNG itu mencolok. Negara Tiongkok, suatu donor yang tidak ingin berkoordinasi dan bekerja sama dengan donor lain dan memilih untuk mendominasi proyek mereka, telah muncul sebagai alternatif yang layak dipertimbangkan. Mungkin sudah waktunya bagi donor-donor lain untuk lebih terlibat dengan tetangga PNG. (The Intertpreter by Lowy Institute)
Editor: Kristianto Galuwo
