Aktivitas anak jalanan di Papua  tinggi di malam hari

Kepala Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Papua, Ribka Haluk – Jubi/Dok

Jayapura, Jubi – Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Papua menyatakan, aktivitas anak jalanan di Kota Jayapura paling banyak di malam hari, sehingga pada siang hari selalu tidak terpantau.

Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Papua, Ribka Haluk mengatakan rata-rata anak jalanan bertempat tinggal di permukiman kumuh dan mobil-mobil rusak yang terparkir.

Read More

“Setelah saya ikuti, memang paling banyak anak-anak jalanan ini dari keluarga yang “broken home” atau salah satu orang tuanya mengalami masalah kejiwaan (psikis),” kata Haluk, di Jayapura kemarin.

Soal pembinaan, beberapa kali Dinas Sosial sudah mengambil alih dengan melakukan pembinaan dan mengembalikan ke pihak keluarga, namun akibat pergaulan kebiasaan itu kembali terulang.

“Bimbingan dan pelatihan berupa kursus menjahit, komputer, dan tata boga sering kami lakukan, salah satu tempatnya ada di Sentani dan itu dilakukan selama tiga bulan setiap tahun,” ucapnya.

“Hanya saja untuk anak di bawah 17 tahun belum ada program yang spesifik, sehingga kami membutuhkan koordinasi dengan kabupaten/kota untuk mengatasi mereka,” sambungnya.

Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano, mengatakan keberadaan anak-anak Aibon dan orang gangguan jiwa menjadi tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini Dinas Sosial untuk melakukan pembinaan dan direhabilitasi.

“Khusus bagi anak di bawah umur yang masih usia sekolah, mereka harus disekolahkan. Sedangkan yang sudah dewasa, apabila sudah pulih diberi pekerjaan. Untuk itu, keberadaan mereka harus didata,” kata Mano.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Irawadi mengatakan untuk penanganan hal -hal di atas, pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan beberapa yayasan yang ada di Kota Jayapura.

“Kami sedang tangani orang gangguan jiwa sebanyak 12 orang, kini sedang dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Walau masih ada yang berkeliaran itu kendala kami untuk penanganan, sebab rumah sakit jiwa hanya satu di Kota Jayapura. Padahal rumah sakit itu juga menerima kiriman pasien dari daerah lain,” kata Irawadi. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

Related posts