Ada venue dan pondok UKM sepi pengunjung selama PON XX berlangsung

papua
Hasil kerajinan tangan yang dijual pada pondok-pondok UKM di depan Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan. Jubi / Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani,Jubi – Perhelatan Pekan Olahraga Nasional ( PON ) XX Papua 2021, di kluster Kabupaten Jayapura berlangsung sejak 24 September lalu.

Namun sejak pembukaan secara resmi pada 2 Oktober, masih ada sejumlah venue yang melangsungkan pertandingan dengan jumlah penonton yang belum mencapai lima puluh persen dari total seratus persen tribun venue tersebut.

Read More

Tentunya hal ini berdampak kepada sepinya pembeli yang datang pada tenda-tenda UKM yang dipasang di areal venue tersebut. Venue Baseball yang pada awal-awal pertandingan sangat minim penontonnya, demikian pula dengan hoky dan kriket. Dari pantauan media ini selama pertandingan berlangsung, penonton yang hadir adalah supporter dari kedua tim yang bertanding dan jumlahnya tidak begitu banyak.

Ketua Harian Sub PB PON Kabupaten Jayapura, Hana Hikoyabi mengakui kondisi tersebut. Tetapi tidak semua venue dalam kondisi yang sepi penonton. Sebagian besar venue seperti aquatik, di istora stadion Bas Yowe, softball, hoki indoor juga dipadati penonton. Bahkan melebihi kapasitas dari 25 hingga 50 persen yang ditetapkan dalam aturan karena Covid-19.

“ Kita berharap dampak ekonomi lebih menonjol dari perhelatan iven empat tahunan ini,” kata Hikoyabi saat ditemui di Sentani, Rabu ( 13/10/2021).

Dikatakan, setiap venue di Kabupaten Jayapura pada areal parkiran dan kedatangan telah disiapkan tenda-tenda UKM bagi para pedagang dan pengusaha lokal. Sehingga memudahkan pengunjung berbelanja apa yang diinginkan.

Menurutnya, iven nasional saat ini banyak memberikan dampak bagi para pedagang dan pengusaha mikro. Khususnya bagi para perajin usaha kulit kayu, noken dan juga tas tangan serta topi bulu Kasuari. Demikian pula dengan mereka yang menyediakan makanan khas Papua seperti Papeda Bungkus, Ikan Gabus goreng, keladi, teh dan kopi.

“ Di pinggir jalan dekat dengan stadion utama banyak sekali pondok-pondok jualan, bahkan sampai masuk ke areal permukiman warga dari pinggir jalan. Dan mereka juga kebagian rejeki dari pangunjung yang datang ke stadion utama. Baik itu ke aquatic maupun istora,” katanya.

Dalam kondisi seperti ini, lanjut Hana, masih ada juga yang mengeluh soal tempat jualan yang sepi pengunjung, tetapi hal tersebut sudah diatasi dengan menghadirkan para pembeli ke tempat jualan dan memborong barang jualan mereka. Dampak PON XX dalam bidang ekonomi, menurutnya harus jadi bagian penting.

Sementara itu, salah satu pedagang lokal, Elisabet Janteo, mengakomodir hasil karya beberapa rekan sejawatnya melalui tenda jualan yang dibangunnya. Meski jauh dari pinggir jalan raya di depan Stadion Utama Lukas Enembe, tetapi dia merasa syukur atas rejeki yang datang tanpa diduga dan terus mengalir dari waktu ke waktu selama pelaksanaan PON XX berlangsung.

“ Awalnya saya mengeluh dengan kondisi tempat jualan yang jauh dari jalan raya, takut tidak akan ada pembeli yang datang. Tetapi Tuhan itu adil, ada saja para pembeli yang datang sesekali tetapi membeli barang-barang jualan kami dalam jumlah yang banyak. Tadinya ada tiga pondok yang penuh dengan kerajinan tangan dari teman-teman di Lembah Grime, Demta dan juga Tanah Merah. Sekarang tersisa satu pondok . Sebelum penutupan tiga pondok ini akan kami penuhi kembali dengan hasil-hasil produksi dan karya yang sudah ada,” pungkasnya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Related posts