Papua No. 1 News Portal | Jubi
Langit Kaimana subuh, 14 Agustus 1962. Dari pesawat Hercules, 141 pasukan elit dari Batalyon 454/Diponegoro terjun senyap-senyap. Payung-payung terbuka memenuhi udara. Dia punya pemimpin bernama Mayor Untung Syamsuri. Nama sandi operasinya Jatayu. Nama gugus tugasnya “Gagak”.
Penerjunan pasukan dari Jawa Tengah itu, merupakan rangkaian operasi Komando Mandala. Sukarno menunjuk Soeharto, memimpin Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Basis markasnya ada di Makassar.
Operasi besar ini dilancarkan dalam tiga fase; infiltrasi, eksploitasi, dan konsolidasi. Pada fase eksploitasi, operasi Komando Mandala bikin target pokok serangan terbuka seperti di Fakfak, Sorong, Kaimana, Jayapura, dan Merauke.
Menurut sejarawan Australia, Richard Chauvel, pada 1960an Fakfak dan Kaimana menjadi salah satu arena kontestasi antara identitas politik ke-Papuaan dan ke-Indonesiaan.
Salah satu pendukung dari kelompok pro Indonesia yang cukup signifikan di wilayah itu, adalah Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB). Sedangkan anggota New Guinea Raad – pelopor nasionalisme Papua-dari daerah itu ialah Nicholas Tanggama dan Muhammad Achmad Aituarauw, putra Raja Komisi Achmad Aituarauw dari Kaimana.
Mayor Untung Syamsuri dan anak buahnya, terjun di Lembah Gunung Genova, Arguni. Dia disambut sebagai pembebas. Di Kaimana, banyak masyarakat pendukung Indonesia.
Hamzah Furu, Kepala Kampung Seraran, ikut membantu pasukan penerjun payung pimpinan Untung. Hamzah, juga merangkap Wakil Komandan GRIB. Hamzah jadi penghubung Pasukan Gagak dengan masyarakat di Teluk Arguni. Dia memobilisasi orang kampung. Menyediakan perahu untuk mengangkut tentara Indonesia. Hamzah Furu bersama Abdullah Werfete, juga membantu penyusupan dan penerjunan pasukan-pasukan TNI lainnya dari Teluk Arguni sampai dengan Teluk Etna.
Mereka memberitahukan sandi kapal-kapal atau perahu-perahu yang mengangkut pasukan TNI, membawa bendera bertulis “Aray”. Artinya “Ipar”.
Masyarakat setempat mengumpulkan hasil kebun seperti sagu, keladi dan pisang untuk pasukan payung. Bahkan, masyarakat membawakan peralatan-peralatan TNI termasuk peluru. Dari Kampung Seraran, mereka bergerak turun sampai ke Siser I. Mayor Untung Syamsuri membangun basis pertahanannya di Kampung Sisir.
Mantan pegawai telekomunikasi Belanda di Biak, Abdul Qodir Kurita berkisah, informasi penerjunan pasukan Trikora di Teluk Arguni, sebenarnya sudah diketahui oleh Belanda. Stasiun Telekomunikasi Jayapura, juga menyampaikan tentang penerjunan pasukan payung di sekitar danau Siwiki dan danau Karara di Teluk Arguni.
Akibatnya, sebagian pasukan Trikora tertangkap atau tertembak mati oleh tentara Belanda. Menurut catatan resmi pasukan khas TNI-AU, jumlah total personel dari TNI, Polri dan relawan yang terlibat selama Trikora adalah 1.419 personel. Sebanyak 216 orang gugur atau hilang. 296 orang tertangkap.
Dalam catatan resmi pemerintah, disebutkan operasi penerjunan di Kaimana dilakukan beberapa kali. Tapi tak ditulis dimana lokasi penerjunannya. Apakah di Teluk Arguni atau Kaimana Kota.
Penanggung jawab seluruh operasi penerjunan payung itu, adalah Panglima Angkatan Udara Mandala,Komodor Leo Wattimena. Martinus Naguasai, tokoh masyarakat Forumajaya menyebut, sasaran penerjunan pasukan Trikora di Kaimana adalah di Pasir Putih (20 km dari Kaimana Kota) dan Tofromi (dekat Sisir, Kaimana).
Menurutnya, untuk menangkal penerjunan tersebut, Tentara Belanda membagikan senjata api ke tokoh-tokoh masyarakat kampung, untuk melawan tentara Indonesia. Dua anggota pasukan TNI tertembak, pada saat menokok sagu di Esetna. Itu karena penduduk setempat melapor kepada Bestuur Kaimana. Belanda langsung mengirimkan pasukan dan menembak mati kedua serdadu Indonesia itu.
Oktavianus Safara, saksi sejarah dari Kampung Morano punya cerita berbeda. Menurutnya pernah ada operasi penyerangan TNI terhadap pos Belanda di kampungnya. Pos itu dijaga ratusan tentara Belanda dan orang Papua.
Tentara Indonesia ragu menembak. Karena lawan yang dihadapi ialah orang Papua. Konon, Presiden Soekarno melarang para tentara Indonesia menembak orang Papua. Karena dianggap sesama saudara dan orang Indonesia.
Dipan Wefete, seorang saksi sejarah dari Kampung Gusimawa, Teluk Arguni, menceritakan pasukan payung yang diterjunkan di Kaimana mendapat tembakan dari tentara Belanda. Tetapi karena malam hari, tembakan mereka tidak ada yang kena sasaran. Setelah itu, tentara dan polisi Belanda mempersiapkan persenjataan lengkap. Termasuk meriam-meriam di sepanjang pantai dari Pasir Putih sampai Coa. Pada waktu malam, pasukan Indonesia turun menyerang pangkalan Belanda. Belanda menempatkan polisi dan Papoea Vrijwilligers Korps (PVK) atau korps relawan yang terdiri orang Papua di garis terdepan.
Tapi cerita tentang orang Papua yang jadi polisi Belanda dan membunuh tentara Indonesia, dibantah oleh saksi sejarah Teriyanus Kotipura, mantan Mobile Police. Dia mengaku turut menangkap pasukan Trikora di beberapa tempat seperti di Karora, Berari, Seraran, Sisir, dan Tanggaromi. Tapi pihaknya mengklaim tidak menembak tentara Indonesia. Sebab ada instruksi dari pemerintah Belanda, tidak menembak pasukan Indonesia, jika mereka tidak melawan dengan tembakan.
Sejauh ingatannya, tidak ada tentara Indonesia yang ditembak Polisi Belanda, kecuali salah seorang anggota tentara Indonesia yang terjun di Faranyau yang patah kakinya saat mendarat karena terbentur oleh pohon melinjo. Sedangkan satunya lagi, ditembak oleh komandannya sendiri, Letnan Heru Sisnodo.
Seluruh cerita di atas, disarikan dari hasil riset Cahyo Pamungkas, peneliti Pusat Penelitian Sumberdaya Regional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Judulnya “Sejarah Lisan Integrasi Papua ke Indonesia: Pengalaman Orang Kaimana pada Masa Trikora dan Pepera”.
Lantas apa yang bikin orang Kaimana semangat membantu pasukan Indonesia? Kenapa Untung yang kelak bernasib buntung di peristiwa G30S, begitu dikenang? Tunggu sambungannya.(*)
editor: Angela Flassy






