13 mahasiswa berkisah tentang keunikan kampung di Sentani

papua
Tiga dari 13 penulis "Penggalan Cerita dari Sentani” seusai peluncuran buku, 24 Juni 2021. Dari kiri-kanan: Santi Tuu, Victoria Kandam, dan Marince Pigai. - Jubi/Theo Kelen.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Potret kehidupan dengan segala keunikan masyarakat di beberapa kampung di Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua berhasil direkam cukup lengkap oleh 13 mahasiswa melalui buku mereka berjudul “Penggalan Cerita dari Sentani: Kumpulan Cerita dari Kampung Asei, Kampung Abar, Kampung Yoboi, dan Situs Megalitik Tutari”.

Buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit Samudra Biru pada April 2021 dan diluncurkan di Aula FKIP Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, Kamis, 24 Juni 2021.

Read More

Kehadiran buku ini tidak terlepas dari hasil pemikiran panjang yang diinisiasi pendiri Rumah Menulis Papua Universial (Rumpun), Roberthus Yewen bersama pendampingnya, Musa Abubar dan Fabio Costa.

BACA JUGA: Kampanyekan literasi melalui gerakan “Seratus Buku untuk Kampung”

Mereka melakukan pelatihan menulis feature untuk 13 mahasiswa dalam membangkitkan imanjinasi mereka melalui menulis.

“Tiga belas mahasiswa kelas menulis feature dari Rumpun direkrut dengan membuka tiga kali kelas dan mengikuti materi yang diberikan, mereka berhasil menyelesaikan pelatihan dan penulisannya dengan baik,” kata Roberthus Yewen di Aula FKIP Uncen, Kamis, 24 Juni 2021.

Tiga belas penulis tersebut adalah Merry Rumbino, Hubertus Dogomo, Merince Maria Pigai, Yohanes V. Mafiti, Maria Papuana N Mayabubun, Zakarias Agapa, Santi Tuu, Gelda Asrouw, Septa Kulsumawulan, Viktoria Kandam, Nelce E. Assem, Sisilia W. Elopere, dan Lidia Eldaberta Koymot.

Buku setebal 100 halaman itu ditulis dengan gaya feature, berisi ulasan tentang budaya dan kehidupan keseharian masyarakat di tiga kampung yang memilki keunikan tersebut. Ketiga kampung adalah Kampung Asei, Kampung Abar, Kampung Yoboi, dan Megalitik Tutari di Kampung Doyo Lama.

Pada halaman 9-28 penulis mengulas tentang Kampung Asei yang dikenal sebagai kampung lukisan kulit kayu. Sebab semua warga, dari anak-anak hingga orang dewasa pandai membuat lukisan di atas kulit kayu.

Kemampuan melukis yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi ditorehkan di lembaran berbahan kulit kayu itu adalah motif lukisan yang menggambarkan kehidupan nenek moyang mereka ratusan tahun lalu.

Selain itu Asei juga menyimpan sejumlah benda peninggalan prasejarah, seperti menhir. Di tengah batu ada motif ukiran berbentuk lingkaran, dalam bahasa Sentani disebut “Fouw” yang artinya simbol perdamaian, kekeluargaan, dan kebersamaan.

Hal menarik lain yang diangkat penulis dalam buku ini dari Asei adalah gereja tua. Gereja GKI di Tanah Papua Filadefia yang diresmikan 1 Januari 1950 tersebut ternyata didesain oleh Wolfwarm Wodong, arsitek dari Jerman. Gereja tersbeut dibangun dengan 10 tiang penyangga berbahan kayu yang melambangkan 10 marga tertua di Asei, yakni marga Ohee, Ongge, Pepuho, Asabo, Nere, Puhri, Poue, Kere, Modouw, dan Yepese.

Kampung Abar ditulis di halaman 28-48. Abar dikenal sebagai kampung gerabah. Tak heran setiap warga di Abar mahir membuat berbagai jenis gerabah. Mulai gerabah untuk memuat papeda hingga pot bunga.

Keunikan lain yang diangkat penulis adalah proses makan papeda dalam gerabah yang kemudian pada 2019 ditetapkan Bupati Mathius sebagai “Festival Heley Mbay Hote Mbay” atau “makan papeda dalam gerabah” ini dilaksanakan setiap tahun pada30 September.

“Helay” dalam bahasa Sentani artinya “gerabah”. Sedangkan “hote” artinya “piring ikan”.

Ternyata bukan hanya gerabah, dalam buku ini penulis mengulas kreativitas masyarakat mengeloh masakan ikan mujair atau gabus ala daun bete. Masakan yang tradisional yang berasal dari peninggalan leluhur.

Buku ini juga mengangkat proyek aliran listirik di Kampung Abar yang dikembangkan oleh perusahan swasta, Electric Vine Indsutris (EVI) dari Jerman melalui PT Listrik Vine Indonesia. Bukan tanpa alasan, Abar dikenalkan dengan PLTS, sebab EVI berupaya menjadikan Abar sebagai contoh dalam mengenalkan sumber lisrik ramah lingkungan.

Kampung Yoboi yang dijuluki Kampung Warna-Warni ditulis di halaman 49-79. Yoboi terkenal sebagai salah satu  pilihan masyarakat jika hendak berwisata ke kampung tradisional di Kabupaten Jayapura.

Di Kampung Yoboi ada kebun gizi di atas Danau Sentani. Tanaman seperti sayur bayam, kol kepala, sawi dan kangkung cabut ditanam di atas ampas dari sagu sebagai pengganti tanah.

Selain itu ada juga cerita tentang Mama Hanny Felle yang merintis Rumah Baca Onomi Niphi. Berkat kerja kerasnya Kampung Yoboi dikenal juga sebagai kampungg  literasi dan menjadi sebagai percontohan kampung-kampung lain di Kabupaten Jayapura untuk mengembangkan taman baca melalui perpustakaan kampung.

Cerita dari Kampung Yoboi lainnya adalah Festival Ulat Sagu. Festival yang digagas Yen Hendrik Tokoro itu digagas pertama kali pada Agustus 2020.  Sebelum penyelenggaraan masyarakat menebang 30-50 pohon sagu dan ditinggalkan selama kurang lebih dua sampai tiga bulan untuk mendapatkan ulat sagu.

Pada bagian terakhir halaman 87-100 menceritakan tentang Situs Megalitik Tutari di Kampung Doyo Lama.

Menurut cerita dari masyarakat Doyo Lama, batu-batu yang ada di Bukit Tutari adalah masyarakat Suku Tutari yang dulunya berbuat kesalahan akhirnya dikutuk menjadi batu.

Masing-masing penulis memang memperkenalkan keunggulan dan potensi tiap kampung di wilayah Sentani. Penerbit dan para penulis berharap buku ini  dapat menginspirasi dan memotivasi mahasiswa, pemuda, dan masyarakat umum untuk menuliskan karya-karya unik dari setiap kampung di daerah masing-masing yang ada di Papua. (*)

Editor: Syofiardi

Related posts